Tipe tipe manusia dalam mencintai Rasulullah SAW

Sesungguhnya kecintaan kepada Rasulullah SAW merupakan bukti dari keimanan, dan pengamalan terhadap Sunnahnya merupakan bukti dari ketulusan cinta kepadanya. 

Tulisan ini merupakan ungkapan tentang sejauh mana rasa cintaku kepada Rasulullah SAW dilengkapi dengan penjelasan tentang tipe-tipe dari orang-orang yang mencintai beliau dan beberapa kewajiban yang harus mereka tunaikan dalam mencintainya.

Aku bermohon kepada Allah Yang Maha tinggi lagi Mahakuasa semoga Dia memberikan taufiq kepada kita untuk mengamalkan apa-apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur dan tulus dalam mencintai RasulNya yang agung. Sesungguhnya Dia Mahakuasa untuk melakukan semua itu. 

Mencintai Rasulullah SAW merupakan ibadah di sisi Allah yang wajib ditunaikan. Dalam mencintai dan menaati beliau ini, manusia terbagi kepada tiga pembagian, yaitu:

Pertama: Kelompok manusia yang keras hatinya.

Mereka adalah kelompok orang-orang yang keras hatinya dari mencintai Rasulullah SAW dan berpaling darinya. Bahkan mereka memusuhinya dan menyatakan perang terhadapnya.

Mereka adalah kaum yang telah dibutakan mata hatinya oleh Allah SWT, sehingga mereka menuduh Rasulullah SAW sebagai pembawa malapetaka ke dunia ini dan sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap keterbelakangan yang menimpa penduduknya. Bagi mereka semua laknat Allah, ”Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan dusta belaka.” (QS. al-Kahfi [18]: 5).

Salah seorang dari mereka mengatakan dalam sebuah tulisannya, ”Muhammad hanyalah seorang yang regressif (terbelakang), badawi (kampungan), pembawa kemunduran bagi bangsa Arab, dan tidak tahu sama sekali tentang ilmu sosial kemasyarakatan, ilmu kemajuan (modernitas), ilmu kejiwaan (psikologi), dan ilmu pendidikan.”

Wahai orang yang sedang ngelantur, mudah-mudahan engkau mendapat laknat dan murka Allah. Kalau benar Rasulullah SAW seperti yang ia tuduhkan, siapakah orangnya yang telah mengeluarkan manusia dari kegelapan yang berada dalam kuburan ateisme, dalam belenggu komunisme, dalam kerangkeng kedengkian dan permusuhan, serta berkutat dalam lingkup sempit Nazisme kepada alam yang terang-benderang? Siapakah yang telah mengarahkan pola pikir manusia ke arah yang benar? Siapakah yang telah membangun rumah-rumah dan mendirikan istana-istana yang megah di atas fondasi ajaran yang kokoh dan asas yang kuat, kalau bukan Rasulullah SAW. Sungguh jauh beliau dari apa yang mereka tuduhkan itu.

Ada juga yang menulis dalam bukunya yang berjudul Al-Hukummah Al-Islamiyah (Dasar-dasar Pemerintahan Islam), ”Sesungguhnya para pemimpin dunia lebih tinggi derajatnya dan lebih besar pengaruhnya di dunia ini ketimbang para nabi dan rasul!” Mudah-mudahan penulis buku tersebut juga mendapat laknat dan kemurkaan Allah. Yang ia sebut sebagai para pemimpin dunia itu tak lain hanyalah para pemimpin ritual-seremonial, para pengumbar nafsu syahwat berbungkus modernitas dan kemajuan, para penipu kawakan, para penyuap jempolan, para pemangsa harta sesamanya dengan cara yang batil, dan para tiran yang mempunyai kekuatan besar untuk mengerahkan masa supaya tunduk kepada perintahnya. Orang-orang seperti itulah yang oleh penulis buku itu disebut sebagai lebih tinggi derajatnya dan lebih besar pengaruhnya terhadap dunia ketimbang Rasulullah SAW. Sungguh ini merupakan kebohongan yang teramat besar dan pengkhianatan yang sesungguhnya. Orang yang mengatakannya adalah orang yang telah dilaknat dan dimurkai oleh Allah dengan cara dilupakan kehendak dan perasaannya sehingga ia tidak bisa lagi mengontrol apa yang ditulis dan dikatakannya. 

Contoh lainnya adalah Nazzar Qabbani, seorang yang terkenal pengumbar nafsu seks, mata keranjang, budak wanita, budak cawan anggur memabukkan, budak nyanyian erotis, dan budak majalah picisan. Ia pernah menghina syari’at Islam begitu rupa, menyerapahkan risalah abadi yang dibawa oleh Muhammad SAW, dan mengenyahkan agama sejauh-jauhnya dari kehidupan. Ia mengatakan kepada seorang penguasa tatkala bertemu dengannya, ”Kami penuhi persembahan bagimu, wahai orang yang dengan mencintainya kami menjadi mabuk kepayang seperti mabuknya sang sufi dengan Allah. Engkau adalah bapak dan obora nya Kitab Taurat. Engkau bagi kami adalah laksana Imam Mahdi dan seorang penyelamat.”

Kata-kata yang berisi pujian yang amat berlebihan ini diucapkannya ketika penguasa itu telah berhasil memukul mundur pasukan Arab tatkala mereka menyerang Israel. Sehingga Israel akhirnya berhasil menguasai Sinai dan mengusir pasukan Arab dari Sinai tersebut.

Orang-orang seperti ini sangat memusuhi Muhammad SAW dan mencerca habis-habisan ajaran syari’at yang beliau bawa. Merekalah sesungguhnya yang mencemarkan umat ini dengan dosa-dosa. Mereka adalah para propagandis kemaksiatan yang dibalut dengan baju modernisasi. Mereka menjadikan Muhammad SAW sebagai musuh, Al-Qur’an sebagai objek hinaan, dan Sunnah sebagai bahan tertawaan. Dengan gencar mereka mengkampanyekan perang terhadap para pemuda Muslim yang gigih menegakkan ajaran agamanya. Mereka tuduh para pemuda itu sebagai kelompok ekstrimis dan terbelakang.

Kepada mereka kita hanya bisa berkata untuk kesekian kalinya, ”Bolehlah kami kalian sebut sebagai kaum ekstrimis. Sedangkan kalian, wahai orang-orang yang menyebut diri kaum modernis, sesungguhnya adalah kaum yang telah menyebarkan kekebejatan moral dan perzinaan. Kalianlah yang telah memasok obat-obatan terlarang, dan kalianlah yang telah menerbitkan buku-buku laknat karya Stalin, Marx, dan Lenin. Kalianlah yang telah mendorong dan membantu Israel untuk menyerbu dan menghinakan kaum Muslim. Kalianlah kaki tangan dan intelejen yang bekerja untuk kepentingan gerakan Yahudi internasional, zionisme, dan komunisme. Janganlah kalian sekali lagi bicara apa pun tentang kami setelah ini. Camkan baik-baik, bahwa para pemuda kebangkitan Islam adalah para pejuang Al-Qur’an, para pemuda mesjid yang siap terjun ke medan juang, dan anak cucu dari Abu Bakar, ”Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

Kedua: Kelompok yang berlebihan dalam mencintai Rasulullah SAW.

Mereka adalah orang-orang yang berlebihan dalam mencintai Rasulullah SAW sehingga keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan agama. Mereka tidak menyadari bahwa Rasulullah SAW itu hanyalah seorang hamba Allah yang mendapat wahyu dari-Nya sehingga beliau tidak memiliki kemampuan untuk memberikan mudharat, mendatangkan manfaat, menyembuhkan, menyehatkan, memberi rezeki, serta menghidupkan dan mematikan.

Diriwayatkan bahwa suatu hari datanglah sebuah delegasi dari Bani ‘Amir ibn Sha’sha’ kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata, ”Engkau adalah orang terbaik dan yang paling banyak keutamaannya di antara kami. Engkau adalah penghulu kami.” Mendengar pujian itu, Rasulullah SAW, menampakkan ketidaksenangannya seraya berkata, ” Wahai sekalian manusia, aku ini hanyalah seorang hamba dan utusan Allah. Katakanlah perkataan yang sewajarnya saja tentang aku, dan janganlah kalian dituntun oleh setan. Katakan saja, ‘Sesungguhnya aku ini hanyalah hamba dan utusan-Nya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih.

Akan tetapi, orang-orang ekstrimis dari kalangan kaum sufi yang telah menyimpang dari jalan yang lurus dan berlebihan-lebihan dalam mencintai Rasulullah SAW. Mereka tidak memahami makna ucapan Rasulullah SAW tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian seperti orang-orang Nasrani yang menganggap nabi mereka, Nabi ‘lsa putra Maryam, sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadits shahih dikatakan bahwa ketika beliau menghadapi sakratul maut, beliau bersabda, ”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku berhala yang disembah.”

Al-Bar’i, seorang penyair, sufi, quburi (pemuja kuburan), dan al-mughdli (seorang yang berlebih-lebihan dalam berkata), yang berasal dari negeri Yaman mengatakan ketika ia berziarah ke kuburan Nabi SAW, di Madinah, ”Wahai Rasulullah! Wahai orang yang mempunyai kedudukan, dan namanya menjadi lambang di akhirat kelak, di saat makhluk dikumpulkan! Wahai junjunganku! Selamatkanlah aku dari kesesatan, dan dari dosa-dosaku sejak lima puluh tahun yang lalu.”

Mahasuci Allah! Perkataan ini sungguh berlebih-lebihan dan telah keluar dari kebenaran. Bukankah tidak ada yang dapat menyelamatkan seseorang dari kesesatan selain Allah, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Dia? Allah SWT berfirman, ”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada [nabi-nabi] yang sebelummu, Jika kamu mempersekutukan [Tuhan], niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. az-Zumar [39]: 65-66).

Diantara mereka ada yang bawa tasbih ke kuburan Nabi SAW, lalu menghitung butiran tasbih tersebut sambil menangis dan mengusap-usap dinding serta pagar besi kuburan beliau. Perbuatan seperti ini tidak akan timbul melainkan dari orangorang yang tidak mengetahui Sunnah Nabi.

Para sufi ekstrem telah mengungkapkan kecintaan mereka kepada Nabi SAW, dengan nyanyian, tarian, penyimpang, penyelewengan, perdukunan, dan ritual-ritual, kesemuanya itu tidak ada dasar hukumnya sama sekali. 

Suatu hari, al-Bushiri mengunjungi kuburan Nabi SAW lalu berkata, ”Wahai junjungan makhluk, aku tidak memiliki seseorang sebagai tempat berlindung selain engkau.” Laa ilaha illallah! “Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan dusta belaka.” (QS. al-Kahfi [18]: 5) Kalau benar apa yang ia katakan, yakni ada seseorang selain Allah yang dapat dijadikan pelindung, lalu apa artinya tauhid dan apa pula gunanya ikhlas?

Al-Bushiri juga pernah mengatakan tentang Rasulullah SAW ”Duhai junjungan makhluk, tiada pelindung bagiku saat musibah terjadi menimpa semuanya selain daripada dirimu. Jika engkau tidak meraih tanganku saat berdiri, maka jadilah aku orang yang tergelincir jejak kaki.”

Mahasuci dan Mahaagung Allah dari apa yang mereka katav kan secara angkuh dan sombong. Mahasuci Dia dari ucapan-ucap an seperti itu. Ucapan-ucapan seperti itu hakikatnya syirik belaka dan menggelincirkan seseorang dari Islam, karena ia merusak pokok-pokok dari aqidah yang benar.

Ada juga yang mendatangi kuburan dengan keadaan memakai perhiasan emas, mengenakan pakaian sutera, dan rambut dicukur, lalu menabuh rebana, menyanyi, dan sesekali mengusap-usap pusara meminta berkah.

Melihat kenyataan itu, kita bertanya, ” Dimanakah Sunnah, dimanakah syari’at? Sesuaikah meminta berkah kepada Syaikh all-Badawi, Sayyidah Zainab, Syaikh ‘Abdul Qadir al-Kailani, atau ‘Abdul Qadir al-Iailani (misalnya), dengan Sunnah Nabi SAW” Tidak. Sunnah Nabi SAW terbebas dari penyimpangan dan kesesatan serupa itu. Sunnah sangat menentang meminta berkah kepada kuburan, atau meminta pertolongan atau meminta kesembuhan dari seseorang yang telah meninggal dunia. Orang yang melakukan perbuatan ini telah menjual bagiannya (pahala) dan memilih kesesatan. Allah SWT berfirman, ”Dan sesungguhnya telah diwahyuf kan kepadamu dan kepada [nabi-nabi] yang sebelummu, jika kamu mempersekutukan [Tuhan], niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi/” (QS. az-Zumar [39]: 65)

Ketiga: Kelompok ketiga (Ahlussunnah Waljama’ah).

Ahlussunnah Waljama’ah berada di tengah-tengah. Mereka mengambil sikap pertengahan dalam mencintai Rasulullah iga; dan menempatkan beliau pada proporsi yang sebenarnya. Mereka tidak memposisikan beliau sebagai Tuhan, melainkan sebagai hamba dan utusan Allah yang hanya menyampaikan ajaran dari Tuhannya, yang tidak bisa memberi mudharat, mendatangkan manfaat, dan yang tidak bisa mematikan dan menghidupkan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah beriman seseorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya.

Ketika Imam Malik membacakan kitab haditsnya, al-Muwa tha“ ‘, tiba-tiba kalajengking menyengatnya sebanyak tigabelas kali. Tetapi ia tidak menghentikan pembicaraannya. Orang-orang kemudian berkata kepadanya, “Kami melihat wajahmu telah berubah.” Imam Malik menjawab, ”Kalajengking menyengatku ketika aku sedang membaca hadits Rasulullah SAW. Mereka berkata, ”Lalu kenapa engkau tidak menghentikan pembicaraan?” Ia menjawab, ”Aneh sekali kalian ini! Bagaimana aku bisa menghentikan membaca hadits sang kekasih (Rasulullah SAW) hanya untuk menolong diriku sendiri (dari sengatan kalajengking).

Sa’id ibn al-Musayyab, ketika sedang sakit menjelang wafatnya, pernah ditanya orang tentang sebuah hadits. Maka ia meminta kepada orang-orang untuk mendudukkan ia dari pembaringan.

Mereka berkata, ” Bukankah engkau sedang sakit, wahai Sa’id ibn al-Musayyab?” Ia menjawab, “Subhdnallah. Disebutkan orang nama Rasulullah SAW di hadapanku, sedang aku tetap berbaring saja. Tidak, demi Allah, aku harus duduk.”

Begitu juga ketika Imam Ahmad jatuh sakit, dimana orang orang bertanya kepadanya tentang Ibrahim ibn Thahman. Maka ia bangun dari tidurnya, lalu duduk dengan kaki bersilang di bawah paha seraya berkata, ”Tidaklah layak disebutkan tentang orang-orang shaleh kepada kita sedang kita masih saja berbaring.”

Ibnu ‘Umar berkata kepada para sahabat, “Aku mendengar Nabi SAW bersabda, janganlah kalian mencegah i md ‘ (budak-budak wanita) untuk memasuki mesjid-mesjid Allah.’ Kemudian anaknya, Bilal, yang waktu itu masih pemuda, berkata, ‘Demi Allah, kami benar-benar akan mencegah mereka. Jangan sampai mesjid dijadikan tempat yang dapat dimasuki sembarangan atau tempat yang penuh sesak tidak karuan.’ Mendengar kata-kata itu Ibnu ‘Umar marah, lalu duduk di atas kedua lututnya seraya berkata, ‘Aku hanya menyampaikan hadits Rasulullah SAW kepadamu, namun kamu membantahnya. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, aku tidak akan berbicara lagi denganmu sampai aku mati/”75 Benar saja, sejak kejadian itu Ibnu ‘Umar tidak pernah lagi berbicara dengan anaknya hingga matinya.

Ketika Ibnu ‘Umar menghadapi sakratul maut, anaknya (Bilal) mendatanginya sambil menangis. Ia berkata, ”Ayahku tidak mau berbicara denganku sampai ia meninggal.” Orang-orang telah berusaha agar Ibnu ”Umar mau berbicara dengan Bilal. Namun, sampai meninggal pun ia tetap tidak mau berbicara dengannya, hanya karena ia membantah hadits yang disampaikan ayahnya itu.

Bayangkan! Bila kepada anaknya sendiri-yang dianggap telah menyela hadits Rasulullah SAW Ibnu ‘Umar mengambil tindakan pemboikotan seperti itu, maka apa kiranya tindakan yang bakal diambil olehnya terhadap orang yang dengan terang-terangan menghina Muhammad SAW

Wallahu A’lam

Maraji : Al Quran yang Berjalan, Aid Al Qarni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s