Tadabur Hadist Arbain ke-15

Dari Abu Hurairah Radiallahu Anhu dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.

(Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari banyak jalur dari Abu Hurairah.

Di sebagian redaksinya disebutkan, “Maka ia jangan menyakiti kangganya.” Di sebagian redaksi lainnya disebutkan, “Hendaklah ia baik dalam memuliakan tamunya. ” Di sebagian redaksinya lagi disebutkan, “Hendaklah ia menyambung kerabatnya, ”menggantikan penyebutan tetangga. 

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits semakna dari hadits Abu Syuraih Al-Khuzai dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Hadits di atas juga diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam oleh Aisyah, lbnu Mas’ud, Abdullah bin Amr, Abu Ayyub Al-Anshari, dan sahabat-sahabat lainnya.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, ”Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari akhir, hendaklah ia mengerjakan ini dan itu, ”menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan tersebut termasuk sifat-sifat iman.

Sebelumnya dijelaskan bahwa amal perbuatan masuk ke dalam iman. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menafsirkan iman dengan kesabaran dan toleransi. Al-Hasan berkata, ”Yang dimaksud dengan sabar dari seluruh kemaksiatan dan toleransi dengan taat.

  • Perbuatan-perbuatan iman terkadang terkait dengan hak-hak Allah, seperti mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Termasuk dalam cakupan perbuatan-perbuatan iman ialah mengatakan yang baik dan diam dari yang jelek.
  • Perbuatan-perbuatan iman juga terkadang terkait dengan hak-hak hamba Allah, misalnya memuliakan tamu, memuliakan tetangga, dan tidak menyakitinya. Ketiga hal tersebut diperintahkan kepada orang Mukmin; salah satunya dengan mengatakan yang baik dan diam dari perkataan yang jelek.

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Aswad bin Ashram Al-Muharibi yang berkata, aku berkata, ”Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat.” 

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 

“Apakah engkau mengendalikan lidahmu?” Aku menjawab, “Aku tidak mengendalikan jika aku tidak memiliki lidah.” Nabi SAW bersabda, “Apakah engkau mengendalikan tanganmu?” Aku berkata, “Aku tidak mengendalikan jika aku tidak mempunyai tangan. ” Nabi SAW bersabda, ”Engkau jangan berkata dengan lidahmu kecuali kebaikan dan jangan menjulurkan tanganmu kecuali kepada kebaikan.

Disebutkan di hadits bahwa lidah yang lurus termasuk sifat iman, seperti disebutkan di Al-Musnad “ dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

”Iman seseorang tidak lurus hingga hatinya lurus dan hatinya tidak lurus hingga lidahnya lurus. “

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radli’yallahu Anhu dari Nabi SAW yang bersabda,

Seorang hamba tidak mencapai hakikat iman hingga ia melarang lidahnya bicara.

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Muadz bin jabal Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

Engkau senantiasa selamat selama engkau diam. jika engkau bicara, maka kebaikan atau keburukan ditulis untukmu. 

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

”Barangsiapa diam, ia selamat. ““

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata, ia tidak menyangka bahwa ucapannya menyebabkan ia tergelincir di neraka lebih jauh daripada jauhnya antara timur dengan barat.

Imam Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

Sesungguhnya, seseorang mengatakan satu kalimat yang ia lihat tidak ada apa-apanya, namun dengan sebab kalimat tersebut, ia jatuh selama tujuh Puluh tahun ke dalam neraka.

Dalam Shahih AI-Bukhari disebutkan hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabba,

Sesungguhnya seseorang mengatakan kalimat yang diridhai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya melainkan Allah mengangkatnya beberapa derajat Sesungguhnya seorang hamba mengatakan kalimat yang dimurkai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya melainkan ia terjerumus dengan sebab kalimat tersebut ke jahannam.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits Sulaiman bin Suhaim dari ibunya yang berkata, aku dengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Sesungguhnya seseorang dekat dengan surga hingga jarak antara dirinya dengan surga cuma beberapa hasta, kemudian ia mengatakan satu kalimat lalu ia dijauhkan darinya lebih jauh daripada Shan’a.

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasai meriwayatkan hadits Bilal bin AlHarits yang berkata, aku dengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Sesungguhnya salah seorang dari kalian mengatakan suatu kalimat yang diridhai Allah dan ia tidak mengiranya sampai di tempatnya, ternyata karena kalimat tersebut Allah menulis keridhaan-Nya hingga hari Dia bertemu denganNya. Sesungguhnya salah seorang dari kalian mengatakan suatu kalimat yang dimurkai Allah, dan ia tidak mengiranya sampai di tempatnya, ternyata karena kalimat tersebut Allah menulis kemurkaanNya hingga hari Dia bertemu dengannya.

(Bersambung insya Allah …. )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s