Hijrah (3)

Rasulullah SAW mengizinkan kaum muslimin berhijrah ke Madinah. Mereka pun segera berhijrah ke sana. Pertama kali yang berangkat berhijrah adalah Abu Salamah bin Abdul Asad dan istrinya. Ummu Salamah. Tetapi, keberangkatan istrinya tertunda satu tahun. disebabkan anaknya. Ia berangkat ke Madinah belakangan bersama anaknya. Kemudian. kaum muslimin berhijrah secara bertahap; susul menyusul. Hingga akhirya tidak ada kaum muslimin yang masih tinggal di  mekah kecuali Rasulullah SAW serta sahabat Abu Bakar dan Ali yang tinggal

di Mekah atas perintah Rasulullah SAW. Di samping ada orang-orang yang terpaksa tinggal di Mekah karena ditahan oleh orang-orang musyrik

Rasulullah SAW telah menyiapkan perbekalannya, menunggu saat turunnya perintah meninggalkan Mekah. Abu Bakar juga mempersiapkan perbekalannya.

Persekongkolan Orang-orang Quraisy di Darun Nadwah untuk Membunuh Rasulullah SAW.

Mengetahui sahabat Rasulullah telah mempersiapkan perbekalan dan meninggalkan Mekah bersama keluarga mereka menuju Madinah, maka tahulah orang-orang musyrik bahwa wilayah Madinah merupakan wilayah yang kuat serta para penduduk wilayah tersebut ahli senjata dan perang. Mereka mencemaskan kepergian Rasulullah SAW, sehingga persoalan mereka menjadi semakin rumit. Mereka pun berkumpul di Darun Nadwah, dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh iblis yang menjelma sebagai seorang tua dari Najed. Mereka pun memperbincangkan Rasulullah SAW.

Masing-masing dari mereka mengemukakan pendapat, sedangkan orang tua tadi menolak dan tidak menerima pendapat yang dikemukakan itu. Hingga akhirnya Abu jahal berkata, “Aku telah menemukan satu ide.”

Mereka bertanya, “Apa itu?”

Abu jahal berkata, “Saya berpendapat, kita mengambil seorang pemuda yang kuat dari setiap kabilah Quraisy. Kita berikan kepadanya sebilah pedang yang tajam. Kemudian mereka bersama-sama menebaskan pedang itu kepada Muhammad. Sehingga, tanggung jawab pembunuhan itu tersebar di seluruh kabilah. Dengan begitu, Bani Abdi Manaf tidak akan tahu apa yang akan mereka perbuat. Mereka tidak mungkin melawan semua kabilah. Setelah itu kita akan membayar diyat kepada mereka.”

Orang tua itu pun berkata, “Sungguh hebat pendapat pemuda ini! Inilah pendapat yang tepat!” Maka mereka berpisah dengan kesepakatan tersebut.

Jibril datang memberitahu Rasulullah SAW tentang hal itu. Jibril memerintah beliau supaya tidak tidur di tempat tidurnya pada malam itu.

Rasulullah SAW datang kepada Abu Bakar pada tengah hari –dimana beliau tidak pernah datang kepadanya pada saat seperti itu sambil mengenakan tutup muka. Beliau berkata, “Aku akan berangkat dari rumahmu.”

Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya mereka adalah keluarga Anda, wahai Rasulullah.”

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengizinkanku untuk berangkat berhijrah.”

Abu Bakar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, perlukah kutemani?”

“Ya,” jawab beliau.

Abu Bakar pun berkata, “Kalau begitu, ambillah salah satu kendaraanku ini!”

“Ya, namun saya beli,” ujar beliau

Malam tersebut Rasulullah SAW memerintahkan Ali agar tidur di tempat tidur beliau.

Para utusan dari berbagai kabilah pun berkumpul sambil mengintip dari lubang pintu dan mengawasi beliau dengan tujuan akan menyerang beliau pada saat tidur. Mereka berunding siapakah di antara mereka yang akan menjadi orang paling celaka?

Rasulullah SAW keluar rumah melewati mereka, mengambil segenggam tanah, lantas menaburkannya di atas kepala mereka seraya membaca :

“Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Yasin [36]: 9)

‘Ingatlah, ketika orang-orang kafir (Quraisy) memaafkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap, memadamkan, mbramh, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membuat tipu daya pula. Dan Allah sebaik-baa pembuat tipu daya” (Al-Ana! [81: 30)

Rasulullah terus menuju rumah Abu Bakar Keduanya berangkat melalui sebuah pintu kecil di rumah Abu Bakar pada malam hari. Kemudian seorang pria mendatangi orang-orang di pintu rumah nabi itu. Orang itu bertanya ‘Apa yang sedang kalian nanti?” Mereka menjawab, “Muhammad.” Orang itu berkata Kalian gagal Demi Allah dia telah melewati kalian dan menaburkan tanah di kepala kalian.” Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak melihatnya!” Kemudian. merekapun berdiri membersihkan tanah dari kepala mereka.

Pahi hari setelah bangun tidur, orang orang quraysi itu bertanya kepada ali tentang muhammad. Ali menjawab aku tidak tahu.

Rasulullah SAW pergi menuju gua tsur. Kemudian ada laba laba yang membuat jaring di pintu gua tersebut. Beliau dan abu bakar menyewa Abdullah bin uraiqith al laitsi, seorang penunjuk jalan yang ahli, yang masih mengikuti agama kaumnya. Meski demikian, Rasulullah SAW dan Abu Bakar mempercayainya, menyerahkan kendaraan kepadanya, serta menjanjikan supaya datang ke gua tsur tiga hari kemudian.

Orang orang quraysi bekerja keras mencari Rasulullah dan Abu bakar. Mereka membawa beberapa qaif (ahli melacak jejak) dan akhirnya tiba di pintu gua. Di depan pintu gua mereka berhenti. Abu bakar berkata, “wahai Rasulullah, jika salah srorang dari mereka melihat ke bawah telapak kakinya, tentu akan melihat kita.”

Beliau berkata, “Bagaimana menurutmu bila ada dua orang, sedangkan Allah menjadi teman ketiga? Jangan bersedih, karena sungguh Allah bersama kita!”

Keduanya mendengar pembicaraan orang-orang Quraisy. Akan tetapi Allah telah membutakan penglihatan mereka.

Amir bin Fuhairah bekerja sebagai penggembala kambing milik Abu Bakar. Ia mengumpulkan informasi tentang berbagai komentar yang beredar di Mekah tentang Rasulullah dan Abu Bakar, kemudian datang

kepada keduanya di malam hari untuk menyampaikan berita. Jika tiba waktu sahur, ia kembali menggembala bersama orang-orang.

Aisyah bercerita, “Saat itu kami mempersiapkan perbekalan secepatnya. Kami membuatkan makanan di dalam kantong kulit untuk mereka. Asma binti Abu Bakar memutus salah satu ikat pinggangnya untuk mengikat tutup kantong kulit tersebut. Ia memutus ikat pinggang yang lain untuk mengikat geriba. Karena itulah, ia dikenal dengan julukan <wanita pemilik dua ikat pinggang” (dzatun nithaqain)”.

Rasulullah dan Abu Bakar tinggal di dalam gua selama tiga hari, menunggu meredanya semangat perburuan terhadap mereka. Ketika itu datanglah Ibnu Uraiqith dengan membawa dua kendaraan. Mereka berdua pun berangkat. Abu Bakar memboncengkan Amir bin Fuhairah.

Kisah Suraqah bin Malik

Setelah kehilangan harapan untuk menangkap keduanya, orang-orang musyrik membuat sayembara dengan hadiah sebanyak diyat masing-masing dari keduanya”, bagi siapa yang berhasil membawa keduanya atau salah seorang dari keduanya Orang-orang pun semakin bersemangat mencarinya. Tetapi Allah berkuasa atas segala urusan-Nya.

Ketika Rasulullah, Abu Bakar, dan Abdullah bin Uraiqith berlalu di sebuah perkampungan di Mudlaj, saat mereka mendaki dari arah Qadid, ada seseorang melihat mereka. Orang itu pun berdiri di tengah perkampungan seraya berteriak, “Aku tadi melihat sekelompok orang di pantai! Menurutku, mereka Muhammad dan sahabatnya

Suraqah bin Malik langsung memahami situasi. Timbullah dalam dirinya hasrat untuk memenangkan sayembara, setelah sebelumnya ia pernah memenangkan sayembara tanpa diduga-duga. Ia berkata, “Bukan, tetapi ia adalah Fulan dan Fulan, keduanya bepergian untuk suatu keperluan.” Kemudian ia berdiam sejenak. Tak lama kemudian, ia berdiri masuk ke dalam tendanya dan berkata kepada budak perempuannya, “Keluarkan kuda melalui belakang tenda, kita akan ketemu di balik bukit!”

Kemudian ia mengambil tombak, menuruni lereng, membuat jalan di tanah, dan akhirnya menaiki kudanya. Setelah dekat dengan rombongan Rasulullah dan mendengar bacaan Nabi SAW, -di mana Abu Bakar berkali-kali menoleh sedangkan Rasulullah SAW sama sekali tidak menoleh-, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah! Suraqah bin Malik sedang mengejar kita!” Rasulullah SAW pun berdoa. Tiba-tiba kedua kaki depan kuda Suraqah terperosok ke dalam tanah.

Suraqah berkata, “Aku tahu, apa yang menimpaku ini disebabkan oleh doa kalian berdua, maka doakan kebaikan untukku, sebagai balasannya aku akan mencegah orang-orang mencari kalian berdua!”

Rasulullah SAW pun mendoakan kebaikan untuknya, sehingga kedua kaki depan kuda tersebut berhasil terbebas dari tanah. Suraqah pun pergi. Ia juga meminta Rasulullah SAW supaya menuliskan satu tulisan untuknya. Maka Abu Bakar menulis berdasarkan perintah Rasulullah SAW di atas kulit yang sudah disamak. Tulisan itu disimpan oleh Suraqah hingga zaman Penaklukan Mekah. Ketika itu Suraqah membawa tulisan tersebut, lalu Rasulullah SAW, memenuhi apa yang dijanjikan beliau dalam tulisan itu.

Suraqah pun kembali. Ia mendapati orang-orang sedang dalam upaya pengejaran. Ia pun berkata, “Aku sudah mengecek informasi, cukuplah kalian mencari sampai di sini!” Pagi hari ia bekerja keras untuk mengejar Rasulullah dan Abu Bakar, namun sore harinya justru menjadi pelindung keduanya.

Kisah Ummu Ma’had

Kemudian rombongan Rasulullah ini melalui sebuah kemah milik Ummu Ma’had Al-Khuza’iyah, seorang wanita yang kuat dan tegar. Ia biasa duduk di halaman kemah, kemudian memberi makan dan minum orang yang berlalu di depan kemahnya. Rasulullah dan Abu Bakar bertanya kepadanya, apakah ia mempunyai sesuatu yang bisa mereka beli? Ummu Ma’bad menjawab, “Demi Allah, andaikata kami mempunyai sesuatu, kami tidak akan pelit untuk menjamu kalian. Tapi, kambing betina kami tidak keluar susunya.”

Saat itu musim kemarau dan kering. Rasulullah SAW pun memandangi seekor kambing betina yang ada di samping kemah. Beliau bertanya, “Bagaimana dengan kambing ini?”

“Anak-anaknya sangat banyak,” jawab Ummu Ma‘bad. “Adakah air susu di kambing ini?” tanya beliau lagi. “Anaknya terlalu banyak untuk itu.”

“Apakah engkau mengizinkan aku memerahnya?”

“Ya, demi Allah, jika engkau melihat ada susu padanya, silakan memerahnya!”

Rasulullah SAW mengusap tetek kambing itu dengan tangannya, beliau menyebut nama Allah dan berdoa. Maka kambing itu melebarkan kedua kakinya, lantas mengalirlah air susu dengan deras. Beliau meminta Ummu Ma’bad mengambil bejana yang cukup untuk beberapa orang. Beliau memerah susu di bejana itu sampai busanya tumpah. Beliau memberikan susu kepada Ummu Ma’had. Ia pun meminumnya sampai puas. Beliau SAW, juga memberikan susu itu untuk diminum para sahabatnya, sampai mereka puas. Kemudian beliau minum. Setelah itu untuk kedua kalinya beliau memerah memenuhi bejana itu. Beliau meninggalkannya untuk Ummu Ma’had. Lantas, beliau dan rombongannya pun berangkat pergi.

Tidak lama sesudah itu, suami Ummu Ma’had datang dengan menggiring kambing-kambing kurus, lehernya terlihat bergoyang-goyang karena saking kurusnya. Ketika melihat susu, suaminya bertanya, “Dari mana susu ini, bukankah kambing kita tidak bersusu, sedangkan di rumah juga tidak ada sapi perah?”

Ummu Ma’had menjawab, “Bukan dari mana-mana, demi Allah! Tetapi, barusan lewat seorang pria yang diberkati, di antara yang diucapkannya begini dan begini.”

“Demi Allah, menurutku, dialah sahabat orang-orang Quraisy yang sedang mereka buru! Gambarkan ia kepadaku, wahai Ummu Ma’had!” ujar suaminya.

Ummu Ma’had pun mencoba melukiskan, “Ketampanannya sangat jelas, wajahnya bercahaya, berakhlak mulia, tidak terlalu kurus, rambutnya sangat hitam, apabila sedang diam ia terlihat berwibawa, jika sedang berbicara ia terlibat mengagumkan, dari jauh tampak sebagai manusia paling tampan dan menarik, dari dekat terlihat sebagai manusia paling elok dan paling manis, ucapannya manis, tegas, tidak terbata dan tidak cerewet, ucapannya ibarat rangkaian kalung yang meluncur, badannya tegap, tidak terlalu pendek, tidak terlalu tinggi, ibarat dahan yang terletak di antara dua dahan lainnya. Ia terlihat paling bugar dan paling dihormati di antara tiga orang Ia punya kawan-kawan yang mengelilinginya Jika ia berkata, semua mendengarkan ucapannya, jika ia memerintah, maka semua bersegera melaksanakan perintahnya. Para sahabatnya dengan suka hati melayani dan mematuhinya. Tidak bermuka masam dan tidak berbicara yang tak berguna.

Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, ini sahabat orang-orang Quraisy yang sedang mereka buru! Aku sungguh ingin menemaninya, sungguh aku akan melakukannya jika diberi kemudahan untuk itu!”

Pagi harinya, di Mekah terdengar suara keras yang didengar oleh banyak orang, tetapi mereka tidak melihat siapa yang mengucapkannya:

Semoga Allah, Rabb manusia, memberikan balasan terbaik Kepada dua sahabat yang singgah di kemah Ummu Ma’bad Mereka singgah dengan kebajikan, dan pergi meninggalkan kebajikan

Sungguh bahagia, siapa yang sore ini menjadi sahabat Muhammad

Wahai Qusay, tiada Allah menghalangi darimu Kebanggaan dan kemuliaan tiada tara

Perempuan itu meninggalkan di sisinya dalam keadaan lemah, seorang pemerah susu

Yang membawanya ke belik dan mata air Tanyakan kepada saudarimu tentang kambingnya Sungguh, jika kalian tanya tentang kambing yang berbuih

Dimintanya kambing yang teteknya tiada berisi, lantas susunya diperah

Terlihat jelas tetek kambing berbuih Merugilah suatu kaum yang kehilangan Nabi mereka

Sedangkan orang yang berjalan dan berbekal darinya, dimuliakan

Meninggalkan kaum hingga hilang akal mereka

Dan tinggal di kaum lain dengan cahaya memancar tiada henti

Tuhan mereka menunjuki mereka setelah tersesat

Dan membimbing mereka, siapa mengikuti kebenaran akan terbimbing

Telah turun dari-Nya, kafilah-kafilah petunjuk kepada warga Yatsrib

Tinggal bersama mereka membawa Nabi paling bahagia

Nabi yang melihat apa yang tidak dilihat oleh manusia sekelilingnya

Membacakan kitab Allah di semua kesempatan jika pada suatu hari, ia berbicara tentang hal gaib Maka, pembuktiannya siang ini atau besok Bahagialah Abu Bakar dengan kebahagiaan kakeknya

Karena telah menemaninya, dan siapa yang dibahagiakan oleh Allah pasti bahagia

Berbahagialah Bani Ka’b sebahagia para gadis mereka

Dan tempat duduknya menjadi tempat mengintai orang-orang beriman

Asma binti Abu Bakar berkata, “Sudah tiga malam kami tidak tahu, ke mana Rasulullah SAW pergi. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kalangan jin dari bawah wilayah Mekah, menyenandungkan bait-bait syair, seperti lagu-lagu yang didendangkan orang-orang Arab, sedangkan orang-orang mengikuti dan mendengarkannya, tetapi tidak melihatnya,

sampai akhirnya ia keluar dari atas wilayah Mekah. Dari situ kami tahu, ke mana Rasulullah pergi.”

Asma berkata: ketika berangkat, Abu Bakar membawa semua hartanya. Kakekku, Abu Quhafah –beliau sudah tidak bisa melihat datang kepada kami, lantas berkata, “Demi Allah, kukira ia telah mengejutkan kalian dengan membawa pergi semua hartanya.”

Kujawab, “Sama sekali tidak, demi Allah! Ia meninggalkan harta juga pada kami!”

Aku pun mengambil bebatuan, kuletakkan di dalam lubang ventilasi rumah, lalu kukatakan, “Peganglah harta ini!”

Ia pun merabanya. Ia berkata, “Kalau begitu tidak apa-apa, jika ia meninggalkan harta ini untuk kalian, berarti ia telah berlaku baik.”

Asma berkata, “Demi Allah, sebenarnya ia tidak menyisakan hartanya sedikit pun untuk kami. Saya hanya ingin membuat diam kakek tua itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s