Hijrah (2)

Saya sudah menyinggung bahwa Nabi SAW memanfaatkan musim musim haji setiap tahun. Beliau mendatangi jamaah haji di tempat-tempat persinggahan mereka, di Ukaz dan lain-lainnya untuk mendakwahkan Islam kepada mereka, namun tidak ada seorang pun yang mau menyambut dakwah beliau atau memberikan perlindungan.

Salah satu rencana yang telah dirancang oleh Allah adalah : Suku Aus dan Suku Khazraj mendengar cerita dari sekutu mereka —yaitu orang-orang Yahudi Madinah yang mengatakan, “Akan muncul seorang nabi yang diutus pada masa tersebut, di mana kami akan menjadi pengikutnya dan membunuhi kalian bersamanya sebagaimana pembunuhan yang menimpa kaum Ad.”

Orang-orang Anshar, sebagaimana suku-suku Arab lainnya biasa menjalankan haji. Ketika orang-orang Anshar itu melihat Rasulullah SAW sedang berdakwah mengajak manusia kepada agama Allah serta memperhatikan sifat-sifat beliau, maka sebagian dari mereka berkata kepada sebagian lain, “Wahai kaum! Demi Allah! Kalian pasti tahu bahwa inilah Nabi yang dijanjikan oleh orang-orang Yahudi itu. maka jangan sampai mereka mendahului kalian dalam mengikutinya.”

Ternyata, sesudah itu Allah takdirkan orang-orang Yahudi justru kafir kepadanya. Itulah yang digambarkan dalam firman Allah SWT :

‘Dan setelah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah [2]: 89)

Baiat Aqabah Pertama

Rasulullah SAW pada satu musim haji berjumpa dengan enam orang Anshar di Aqabah, mereka semua dari suku Khazraj. Di antara mereka ada As‘ad bin Zararah dan Jabir bin Abdullah bin Ri’ab As-Sulami. Beliau mendakwahi mereka untuk mengikuti ajaran Islam, maka mereka pun masuk Islam. Kemudian mereka pulang ke Madinah mendakwahkan Islam. Tumbuhlah benih-benih Islam di bumi Madinah, sampai-sampai tidak ada satu rumah pun kecuali sudah dimasuki oleh Islam.

Pada tahun berikutnya datanglah dua belas orang dari Madinah, terdiri dari enam orang yang pernah datang pertama kali –kecuali Jabir-. Di antara mereka terdapat Ubadah bin Shamit, Abul Haitsam bin Tihan, dan lain-lain.

Enam orang Anshar yang datang pertama kali dulu pernah berkata kepada beliau pada saat masuk Islam, “Sesungguhnya, telah terjadi permusuhan di antara sesama warga kami, semoga Allah menyatukan mereka dengan perantaraan engkau. Kami akan mengajak mereka kepada ajaranmu. Jika Allah menyatukan mereka kepadamu, niscaya tidak akan ada pria yang lebih mulia daripadamu.”

Suku Aus dan Khazraj adalah saudara seibu dan seayah. Mereka berasal dari Yaman, dari negeri Saba. Ibu mereka adalah Qailah binti Kahil –seorang wanita dari Qudha‘ah. Karena itu, kadang-kadang mereka disebut sebagai “putra keturunan Qudha‘ah”. Seorang penyair mengatakan :

Para pelawak, anak-anak Qailah, tiada didapat Pada mereka, celaan dalam pergaulan

Terjadi permusuhan di antara mereka disebabkan oleh adanya seorang yang terbunuh. Peperangan di antara mereka terus berkobar selama seratus dua puluh tahun, sampai Allah memadamkan api peperangan tersebut dengan lslam dan menyatukan mereka dengan Rasulullah SAW itulah yang digambarkan dalam firman Allah : “dan ingatlah akan nikmat AIlah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”

(Ali ‘Imran [3]: 103)

Ketika dua belas orang Anshar datang kepada beliau pada tahun berikutnya -yang telah saya sebutkan, di antara mereka ada dua orang dari kalangan Aus. yaitu: Abul Haitsam dan Uwaim bin Sa’idah, sedangkan sisanya dari khazraj.

Sepulang mereka, Rasulullah SAW mengutus Mush’ab bin Umair bersama mereka. Beliau memerintahkan kepadanya agar mengajarkan Al-Qur’an dan Islam kepada mereka.

Mush‘ab pun tinggal di rumah Abu Umamah _As’ad bin Zararah. Suatu ketika Abu Umamah keluar rumah bersama Mush’ab bin Umair –dalam salah satu kunjungannya. la mengajaknya masuk ke sebuah perkebunan Bani Zhafar. Keduanya duduk di sana, lantas orang-orang yang sudah masuk Islam berkumpul di sekeliling keduanya.

Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Khudhair Masuk Islam

Suatu ketika Sa’d bin Mu‘adz –pemuka suku Aus-_ berkata kepada Usaid bin Khudhair, “Pergi dan temuilah dua orang yang telah datang untuk mencemooh orang-orang lemah di antara kita! Hentikan ulah mereka berdua! Sesungguhnya, As’ad bin Zararah adalah sepupuku. Andaikata tidak begitu, tentu aku sudah membereskannya.”

Sa’d dan Usaid, masing-masing merupakan pemuka di tengah warga sukunya. Usaid pun mengambil tombak. kemudian berangkat hendak menjumpai keduanya. Melihat kedatangan Usaid, As’ad bin Zararah berkata kepada Mushab, ‘Yang datang ini adalah tokoh di tengah kaumnya, maka jujurlah kepada Allah dalam memperlakukannya?

Mush’ab berkata, “jika ia mengajakku berbicara, aku akan berbicara dengannya.”

Usaid berhenti di hadapan keduanya, lantas berkata, ‘Apa sebab kedatangan kalian kepada kami? Kalian mencemoohkan orang-orang lemah kami. Pergilah jika kalian masih sayang kepada nyawa kalian!”

Mush’ab berkata, “Maukah engkau duduk sebentar untuk sekedar mendengarkan? jika kamu menyukai bisa menerimanya, tetapi jika tidak menyukai tinggalkan apa yang tidak kau sukai itu!”

Usaid berkata, “Engkau benar.” Kemudian ia menancapkan tombaknya dan duduk.

Mush‘ab menjelaskan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepadanya. Ia berkata, “Demi Allah, kami telah melihat keislaman di wajahnya,

sebelum ia berbicara. Terlihat dari wajahnya yang berbinar dan bercahaya.”

Kemudian Usaid berkata, “Alangkah bagus dan indahnya ajaran ini! Apa yang kalian lakukan jika hendak masuk Islam?”

Mush’ab berkata, “Mandi dan cucilah pakaianmu, kemudian ucapkan syahadat, lantas shalatlah dua rakaat!”

Usaid pun berdiri, mandi, mencuci pakaiannya, mengucapkan syahadat, dan shalat dua rakaat. Kemudian ia berkata, “Di belakangku ada seorang pria“, jika ia menjadi pengikut kalian, maka tidak ada seorang pun dari kaumnya yang ketinggalan ikut. Aku akan mengajaknya menemui kalian sekarang!”

Kemudian ia mengambil tombak, pergi menjumpai Sa’d yang ada di tengah kaumnya, ketika itu mereka sedang duduk-duduk di ruang pertemuan.

Sa’d berkata, “Aku bersumpah dengan nama Allah, ia telah datang kepada kalian dengan wajah yang berbeda dari wajahnya saat meninggalkan kalian!”

Ketika Usaid sudah berdiri di tengah forum. Sa’d bertanya kepadanya, “Apa yang barusan kau lakukan?”

Usaid menjawab, “Aku sudah berbicara kepada kedua orang itu. Demi Allah. aku tidak melihat bahaya pada kedua orang itu. Aku sudah melarang mereka. Mereka mengatakan, “Kami akan lakukan apa yang kau suka!” Aku juga diberitahu bahwa Bani Haritsah ramai-ramai mendatangi As’ad bin Zararah untuk membunuhnya. Hal itu dikarenakan mereka mengetahui bahwa ia adalah sepupumu, untuk mempermalukanmu.”

Kontan Sa’d berdiri naik pitam disebabkan cerita yang barusan disebutkan oleh Usaid. Sa’d mengambil tombaknya lantas bergegas menemui As’ad dan Mush‘ab. Namun, begitu melihat keduanya ternyata tenang tenang saja di tempatnya, tahulah Sa‘d bahwa sebenarnya Usaid hanya menginginkan agar ia mendengar ucapan keduanya. Maka ia berdiri di hadapan keduanya sambil memaki-maki. Kemudian, ia berkata kepada As’ad, “Demi Allah, wahai Abu Umamah! Andaikata bukan karena kekerabatan antara dirimu denganku, tentu aku tidak ingin bertanya! Mengapa

kamu memasuki perkampungan kami dengan membawa sesuatu yang kami benci?”

Sebelumnya As’ad sudah berkata kepada Mush‘ab, “Yang datang ini adalah seorang tokoh, ia mempunyai banyak warga yang menjadi pengikutnya. jika ia mengikutimu, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang ketinggalan mengikutimu!”

Mush’ab pun berkata kepada Sa’d, “Maukah engkau duduk sebentar untuk sekedar mendengar? jika engkau suka, silakan menerimanya. Tetapi jika engkau tidak menyukainya, maka kami akan menjauhkan darimu apa yang tidak kau suka itu!”

Sa’d berkata, “Engkau benar.” Kemudian ia menancapkan tombaknya, lantas duduk.

Mush’ab menjelaskan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepadanya. Ia berkata, “Demi Allah, kami telah mengetahui keislaman di wajahnya.

Sebelumnya ia menyatakannya, terlihat dari wajahnya yang berbinar dan bercahaya.

Kemudian Sa’d berkata ‘Apa yang kalian lakukan jika masuk Islam?”

Keduanya menjawab, ‘Mandilah, cuci pakaianmu. ucapkan syahadat, kemudian shalatlah dua rakaat!”

Sa’d melakukan semua itu. Setelah itu. ia mengambil tombaknya. ia pun pergi ke tempat pertemuan warganya. Ketika melihatnya. orang-orang langsung berkomentar, “Kita bersumpah dengan nama Allah. ia telah kembali dengan wajah yang berbeda dari wajahnya ketika berangkat?

Sa’d berkata. ‘Wahai anak cucu Abdul Asyhal. Bagaimana kedudukanku di tengah kalian?” Mereka menjawab. “Engkau adalah pemimpin kami putra pemimpin kami orang yang paling cerdas dan paling sempurna sifatnya di antara kami.”

Sa’d berkata. “Aku bersumpah berbicara kepada pria dan wanita kalian adalah haram bagiku, kecuali kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Maka sore harinya tidak ada seorang pria maupun wanita pun kecuali telah masuk Islam kecuali Ushairim. Keislamannya tertunda sampai saat terjadinya Perang uhud. Saat itu ia masuk lslam ikut berperang dan terbunuh, sedangkan ia belum pernah sekali pun bersujud kepada Allah. Nabi SAW berkomentar mengenai Ushairin, “Ia baru beramal sedikit, tetapi diberi pahala banyak.”

Mush’ab tinggal di rumah As’ad mendakwahkan lslam di tengah masyarakat sehingga di setiap rumah kaum Anshar terdapat pria atau wanita muslim Kecuali kawasan di antara rumah Bani Umayah bin Zait, Khatmah, Raif dan Waqif. Di tengah-tengah mereka terdapat Qais bin Aslut sang penyair. Para penduduk kawasan tersebut sangat mendengarkan pendapat sang penyair ini sedangkan ia melarang mereka masuk lslam hingga masa Perang Khandak setelah Rasulullah SAW hijrah.

Baiat Aqabah Kedua

Setahun berikutnya setibanya musim haji, orang-orang Anshar yang telah masuk lslam berkata ‘Sampai kapan kita membiarkan Rasulullah SAW terus-menerus diusir ke gunung-gunung Mekah dan diteror?” Maka mereka berangkat bersama masyarakat mereka yang musyrik untuk melaksanakan haji.

Setiba di Mekah, mereka membuat janji untuk bertemu Rasulullah SAW di Aqabah pada hari-hari tasyriq untuk melaksanakan baiat, seusai mereka menunaikan haji. Ketika itu Abas berkata kepada Rasulullah. “Aku tidak tahu, siapakah orang-orang yang datang kepadamu itu? Padahal, aku mengenal orang-orang Yatsrib.”

Ketika malam tiba, mereka meninggalkan rombongan secara sembunyi-sembunyi. Mereka ditemani oleh Abdullah bin Amru lbnu Haram –ayah jabir, yang pada saat itu masih musyrik Mereka menyembunyikan maksud kepergian mereka itu darinya. Pada malam perjanjian mereka dengan Rasulullah SAW, mereka berkata kepadanya, ‘Wahai Abu jabir, engkau salah seorang pemuka di kalangan kami. Kami tidak ingin, kiranya engkau besok menjadi kayu bakar.”

Abdullah bertanya, “Memang ada apa?”

Mereka pun memberitahukan duduk perkara sesungguhnya. Abdullah pun masuk Islam, menghadiri baiat Aqabah dan menjadi salah seorang naqib.

Setelah berlalu sepertiga malam, mereka keluar untuk berkumpul bersama Rasulullah pada waktu yang telah ditentukan. Mereka berangkat satu dua orang, sedangkan beliau ditemani oleh Abas –yang pada saat itu ia masih mengikuti agama kaumnya-_. Akan tetapi, ia ingin mengetahui urusan keponakannya dan dipercaya oleh beliau.

Ketika melihat wajah mereka, Abas berkata, “Mereka adalah orang-orang yang tidak kami kenal. Mereka muda-muda.”

Abas menjadi orang pertama yang berbicara. Ia berkata, ‘Wahai orang-orang Khazraj -orang-orang Arab saat itu biasa menyebut mereka semua sebagai Khazraj, sesungguhnya kedudukan Muhammad di tengah kami seperti yang telah kalian ketahui Kami telah melindunginya dari gangguan kaum kami la berada dalam perlindungan dinegerinya. Tetapi ia bersikukuh hendak pergi dan bergabung dengan kalian Jika kalian merasa sanggup memenuhi janji kalian kepadanya dan bisa melindunginya dari orang-arang yang memusuhinya, maka silakan kalian memikul tanggung jawab itu! Tetapi jika kalian merasa akan menyerahkannya dan membiarkan musuh menangkapnya -setelah kepergiannya kepada kalian. maka sejak sekarang tinggalkan ia di sini, karena ia dalam perlindungan kami.”

Mereka menjawab, “Kami telah mendengar apa yang kau katakan. Maka, wahai Rasulullah, bicaralah! Ambillah janji untuk diri Anda dan Rabb Anda, sesuka Anda?

Rasulullah SAW pun berbicara, Beliau bersabda, ‘Aku baiat kalian agar kalian melindungiku —jika kelak aku datang kepada kalian sebagaimana kalian melindungi istri dan anak kalian, sedangkan bagi kalian surga.

Maka, orang yang pertama-tama membaiatnya adalah Bara bin Ma’rur. Ia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, sungguh, kami akan melindungimu, sebagaimana kami melindungi istri kami. maka baiatlah kami, wahai Rasulullah! Kami ahli perang dan senjata. Kami mewarisi tradisi ini secara turun-temurun.”

Abu Haitsam bin Tihan menyela, ‘Sesungguhnya, antara kami dan orang-orang ada ikatan-ikatan. Kami akan memutus semua ikatan itu. Apakah andaikata Allah kelak memberikan kemenangan kepada Anda. Anda akan kembali kepada kaum Anda dan meninggalkan kami?

Mendengar itu Rasulullah SAW tersenyum. Kemudian bersabda, “Tidak, demi Allah! Darah adalah darah, kehancuran adalah kehancuran. Kalian adalah wargaku dan aku adalah warga kalian aku akan memerangi siapa yang memerangi kalian dan berdamai dengan siapa pun yang berdamai dengan kalian!”

Ketika mereka berdiri hendak membaiat beliau, maka salah seorang yang paling muda di antara mereka ”As’ad bin Zararah memegang tangan beliau, lantas berkata, ‘Jangan buru-buru wahai warga Yatsrib!

Kita tidaklah datang kepada beliau, kecuali karena kita tahu bahwa beliau adalah Rasulullah. Membawanya pergi dari Mekah hari ini berarti merupakan pernyataan memisahkan diri dari seluruh bangsa Arab dan akan ada orang-orang terbaik di antara kalian yang dibunuh, pedang-pedang dihunuskan kepada kalian dari berbagai penjuru. jika kalian punya kesabaran untuk memikul semua itu, maka ambillah perjanjian ini, sedangkan pahala kalian dijamin oleh Allah! Tetapi jika kalian masih mengkhawatirkan keselamatan diri kalian, maka tinggalkan ia, itu lebih bisa dimaafkan bagi kalian di sisi Allah!”

Mereka menjawab, “Singkirkan tanganmu dari kami! Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini dan tidak hendak membatalkannya!”

Maka, mereka berdiri menghadap beliau seorang demi seorang. Beliau membaiat mereka dan menjanjikan surga bagi mereka Kemudian, terdengar suara hiruk pikuk yang tidak jelas, maka Abas berkata, “Hendaklah kalian berhati-hati! Sesungguhnya banyak mata-mata yang mengawasi kita!”

Setelah itu Rasulullah SAW bersabda, “Datangkan kepadaku dua belas orang di antara kalian, sebagai naqib (ketua) dan penanggung jawab atas kaum mereka, sebagaimana pertanggungjawaban para hawari kepada Isa bin Maryam, sedangkan aku menjadi penanggung jawab kaumku!”

Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya, dulu Musa telah mengangkat dua belas naqib di antara kaumnya.”

Maka, dipilihlah As’ad bin Zararah sebagai naqib Bani Najar, Bara bin Ma‘rur dan Abdullah bin Amru bin Haram sebagai naqib Bani Salamah, Sa‘d bin Ubadah dan Mundzir bin Amru sebagai naqib Bani Sa’idah, Rafi bin Malik bin Ajlan sebagai naqib Bani Zuraiq, Abdullah bin Rawahah dan Sa’d bin Rabi’ sebagai naqib Bani Harits bin Khazraj, Ubadah bin Shamit sebagai naqib Qawaiil, Usaid bin Khudhair dan Abu Haitsam bin Tihan sebagai naqib Aus, serta Sa’d bin Khaitsamah sebagai naqib Bani Auf.

Peserta baiat Aqabah ini terdiri dari tujuh puluh pria dan dua wanita.

Ketika mereka berbaiat kepada beliau, maka setan berteriak dengan teriakan paling keras yang pernah terdengar, “Wahai penduduk Akhasyib? Tidakkah kalian melihat Muhammad bersama pengikutnya yang meninggalkan agama kalian? Mereka telah bersatu untuk memerangi kalian.”

Maka, Rasulullah SAW, bersabda, “Ini adalah Azab (setan) Aqabah. Demi Allah, wahai musuh Allah, sungguh aku akan memburumu!”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Kembalilah kalian ke perkemahan!”

Abas bin Ubadah bin Nadhlah berkata, “Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, jika Anda menginginkan, kami sanggup menyerang penduduk Mekah, besok, dengan pedang-pedang kami!”

Beliau menjawab, “Kita belum diperintah untuk itu. Tetapi, kembalilah kalian ke perkemahan kalian!”

Mereka pun kembali.

Pagi harinya para pemuka Quraisy datang kepada mereka. Mereka berkata, “Telah sampai berita kepada kami bahwa kalian tadi malam menemui sahabat kami Kalian hendak mengajaknya keluar dari negeri kami serta berbaiat kepadanya untuk memerangi kami. Sungguh, demi Allah, tidak ada satu pun perkampungan orang Arab yang paling tidak kami inginkan terjadi peperangan antara kami dengan mereka, selain kalian!”

Maka beberapa pria –yang tidak mengetahui peristiwa baiat Aqabah berdiri dan bersumpah kepada mereka dengan nama Allah bahwa berita itu sama sekali tidak benar. Sementara orang-orang yang menghadiri peristiwa itu, saling memandang satu sama lain. Abdullah bin Ubay bin Salul mengatakan, “Ini berita bohong. Ini tidak akan pernah terjadi. Tidak mungkin kaumku meninggalkanku untuk keputusan seperti ini. Andaikata aku ada di Yatsrib pun, wargaku tidak mungkin melakukan hal ini, kecuali setelah bermusyawarah denganku!”

Maka, orang-orang itu —-di antaranya Harits bin Hisyam yang mengenakan dua buah sandal baru berdiri hendak beranjak pergi.

Tiba-tiba Ka’ab bin Malik mengucapkan kata-kata —seakan akan ia ingin menimpali ucapan mereka. Ia berkata, ‘Wahai Abu Jabir, tidak bisakah engkau memakai sandal sebagus kedua sandal milik pemuda ini, padahal engkau adalah salah seorang pemimpin kami?”

Ucapannya itu didengar oleh Harits. Maka ia melepaskan kedua sandal dari kakinya, lantas melemparkan kepadanya. Ia berkata, “Demi Allah, pakailah kedua sandal ini!”

Abu Jabir pun berkata, “Jangan, engkau telah membuat pemuda ini marah! Maka kembalikan kedua sandalnya itu!”

Ka’ab berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengembalikan kedua sandal itu kepadanya! Ini fa’l (harapan) yang baik. Jika fa’l itu benar, sungguh aku pasti mencabutnya!”

Setelah orang-orang Anshar meninggalkan Mekah, berita mengenai baiat Aqabah berhasil dipastikan oleh orang-orang Quraisy, maka mereka berangkat untuk mengejar orang-orang Anshar. Mereka berhasil menjumpai Sa‘d bin Ubadah dan Mundzir bin Amru, namun Mundzir berhasil lolos dari mereka.

Adapun Sa‘d, mereka bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengikuti agama Muhammad?”

Sa’d menjawab, “Ya.”

Maka mereka mengikatkan kedatangannya ke leher dengan tali kendaraannya. Mereka pun menyeretnya dengan rambutnya seraya memukulinya –ia mempunyai rambut panjang sebahu hingga mereka membawanya masuk ke Mekah. Kemudian datanglah Muth‘im bin Adi dan Harits bin Harb bin Umayah. Keduanya berhasil membebaskannya dari tangan mereka.

Kaum Anshar bermusyawarah untuk kembali mencarinya. Tapi, ternyata ia telah muncul di hadapan mereka. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s