Peristiwa Hijrah Sahabat Nabi SAW (1)

Hijrah Pertama ke Habasyah

Di tahun kelima, Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya berhijrah ke Habasyah, karena beratnya siksaan dan gangguan yang mereka terima. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, di sana ada seorang pria adil yang tidak ada seorang pun dizalimi di hadapannya.”

Habasyah saat itu merupakan salah satu negeri tempat berdagang orang-orang Quraisy. Rombongan hijrah pertama ini terdiri dari dua belas orang pria dan empat orang wanita. Orang yang pertama berhijrah ke sana adalah: Utsman bin Afan bersama istrinya, dan Ruqayah binti Rasulullah. Orang-orang menyembunyikan keislaman mereka.

Di antara anggota rombongan tersebut adalah Zubair, Abdurahman bin Auf, Ibnu Mas’ud, serta Abu Salamah dan istrinya. Mereka keluar dari Mekah dengan mengendap-endap dan secara rahasia. Allah SWT memberikan taufik kepada mereka, bahwa ketika mereka sampai di pantai, mereka menemukan dua kapal milik para pedagang. Para pedagang itu pun membawa mereka ke Habasyah. Orang-orang Quraisy berusaha mengejar mereka, akan tetapi ketika sampai di tepi pantai, mereka tidak mendapati seorang pun.

Keberangkatan mereka adalah pada bulan Rajab. Mereka tinggal di Habasyah selama bulan Sya’ban dan Ramadhan. Kemudian mereka kembali ke Mekah pada bulan Syawal ketika mendengar berita bahwa orang-orang Quraisy mulai melunak dan tidak lagi menyakiti Rasulullah. Penyebabnya adalah Rasulullah yg membacakan surat An-Najm. Dan ketika sampai pada ayat:

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Lata dan Uza. Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (An-Najm [53]: 19-20),

Setan menggelincirkan lidah beliau sehingga terucap:

”Itu adalah berhala-berhala luhur, dan sesungguhnya syafaat mereka itu sungguh diharapkan.”

Maka orang-orang musyrik pun berkata, “Tidak pernah ia memuji tuhan-tuhan kita sebelum hari ini. Kita sendiri juga tahu bahwa Allah adalah yang menciptakan dan memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, tetapi tuhan-tuhan kita itu memberikan syafaat di sisi-Nya.”

Ketika sampai di ayat sajdah, maka beliau bersujud. Kaum muslimin beserta orang-orang musyrik pun ikut bersujud bersama beliau, kecuali seorang tua dari kalangan Quraisy, ia mengangkat segenggam kerikil ke dahinya, lantas bersujud di atasnya, dan berkata, “Aku cukup mengerjakan begini saja.”

Nabi SAW pun sangat bersedih dan sangat takut kepada Allah. Maka Allah menurunkan ayat:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Al-Hajj [22]: 52)

Ketika ternyata Nabi SAW masih terus mencela tuhan-tuhan mereka, mereka pun memusuhi beliau dengan lebih keras lagi. Permusuhan mereka terhadap orang-orang yang masuk Islam juga semakin keras.

Hijrah Kedua ke Habasyah

Ketika para muhajirin yang berhijrah ke Habasyah itu sudah dekat dari Mekah, lantas mendengar berita sesungguhnya mereka ragu-ragu untuk masuk ke kota Mekah. Kemudian masing-masing dari mereka memasuki kota Mekah berdampingan dengan seorang dari Quraisy. Di Mekah mereka menerima siksaan keras dari orang-orang Quraisy. Keluarga mereka juga bersikap keras terhadap mereka. Perlakuan baik yang selama ini telah mereka terima dari Najasyi menjadikan hal itu terasa berat bagi mereka. Maka untuk kedua kalinya, Rasulullah SAW mengizinkan mereka meninggalkan Mekah menuju Habasyah. Mereka pun berangkat.

Jumlah anggota rombongan yang berangkat dalam Hijrah kedua ini delapan puluh tiga orang pria, di antara mereka terdapat Amar bin Yasir dan ditambah dengan sembilan belas orang wanita.

Ketika mereka mendengar Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, tiga puluh tiga Muhajirin pria dan delapan wanita pulang. Dua orang di antara mereka meninggal ketika di Mekah, tujuh orang tertahan di sana, sedangkan dua puluh empat orang di antara mereka ikut serta dalam Perang Badar.

Surat Rasulullah SAW kepada Najasyi : Meminta dinikahkan kepada Ummu Habibah

Pada bulan Rabi’ tahun ketujuh Hijriyah, Rasulullah SAW; menulis surat kepada Najasyi mengajaknya masuk Islam. Beliau juga menulis surat meminta dinikahkan dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang ikut berhijrah bersama suaminya, Abdullah bin Jahsy. Di sana Abdullah masuk agama Nasrani dan mati dalam keadaan beragama Nasrani.

Beliau juga menulis surat yang berisi permintaan agar Najasyi mengirimkan sahabat-sahabat beliau yang masih tersisa di sana. Ketika membaca surat itu, Najasyi masuk Islam. Ia berkata, “Andaikata aku bisa datang kepadanya, tentulah aku datang kepadanya.”

Najasyi lantas menikahkan beliau dengan Ummu Habibah, dan memberikan mahar untuknya empat ratus dinar. Ia mengirimkan sahabat sahabat beliau yang masih tertinggal di sana dalam dua kapal. Merekapun berjumpa dengan Rasulullah SAW di Khaibar, setelah ditaklukkan oleh beliau.

Utusan Orang-orang Quraisy kepada Najasyi Meminta Pemulangan Kaum Muslimin

Pasca Perang Badar, orang-orang Quraisy berkumpul di Darun Nadwah. Mereka berkata, “Kita mempunyai dendam pada orang-orang Yang sekarang hidup di bawah perlindungan Najasyi. Maka, hendaklah kalian mengumpulkan harta dan hadiahkan kepada Najasyi, barangkali ia mau memulangkan mereka. Utuslah dua orang yang cerdas di antara kalian!”

Mereka pun mengutus Amru bin Ash dan Imarah bin Walid sambil membawa hadiah. Kedua utusan ini menyeberangi lautan. Sesampainya di hadapan Najasyi, keduanya bersujud dan mengucapkan salam kepadanya. Keduanya berkata, “Masyarakat kami sangat mencintai Anda. Mereka mengutus kami kepada Anda untuk mengingatkan Anda tentang bahaya orang-orang yang datang kepada Anda. Sebab, mereka adalah para pengikut seorang pria pendusta yang datang kepada kami mengaku-ngaku sebagai utusan Allah. Tidak ada yang menjadi pengikutnya selain orang-orang bodoh. Karena itu, kami menekan dan mengisolasi mereka di sebuah lembah di sebuah wilayah kami. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bisa keluar dari maupun masuk ke lembah itu. Maka mereka mati karena kelaparan dan kehausan. Ketika keadaan mereka semakin terjepit, pria itu mengutus putra pamannya untuk datang kepada Anda, supaya merusak agama dan kerajaan Anda, maka berhati-hatilah terhadap mereka dan kembalikan mereka kepada kami agar kami bisa memberesi mereka. Buktinya, mereka datang kepada Anda tetapi tidak mau bersujud kepada Anda. Mereka juga tidak menyampaikan ucapan penghormatan sebagaimana layaknya penghormatan yang biasa diucapkan untuk Anda, karena mereka membenci agama Anda.”

Najasyi kemudian memanggil mereka. Ketika mereka datang, Ja’far bin Abi Thalib berteriak di pintu, “Hizbullah (tentara Allah) minta izin untuk bertemu dengan Anda.”

Najasyi pun berkata, “Perintahlah pria yang berteriak itu supaya mengulang ucapannya!” Ia pun mengulangnya.

Najasyi berkata, “Baik, biarkan mereka masuk dengan izin dan jaminan Allah!”

Mereka pun masuk tetapi tidak bersujud kepadanya. Najasyi berkata, “Apa yang mencegah kalian untuk bersujud kepadaku?”

Mereka menjawab, “Kami bersujud hanya kepada Allah yang telah menciptakan Anda dan kerajaan Anda. Adapun penghormatan tersebut merupakan kebiasaan kami ketika kami dulu masih menyembah berhala. Lantas, Allah mengutus di tengah kami seorang nabi yang jujur. Beliau mengajarkan kepada kami ucapan penghormatan yang baru, yaitu “salam”, ucapan penghormatan penduduk surga.”

Najasyi pun mengetahui bahwa hal itu benar dan hal itu terdapat dalam Taurat dan Injil.

Najasyi bertanya, “Siapakah tadi di antara kalian yang berteriak meminta izin tadi?”

Ja’far berkata, “Saya.” Najasyi berkata, “Bicaralah!”

Ja’far berkata, “Anda seorang raja, tidak selayaknya saya banyak bicara dan berbuat zalim di hadapan Anda. Saya ingin menjawab pertanyaan mewakili para sahabat saya. Perintahkan kepada salah seorang dari dua pria ini supaya berbicara, lantas Anda akan bisa mendengar dialog kami.”

Amru berkata kepada Ja’far, “Bicaralah!”

Ja’far berkata kepada Najasyi, “Tanyakan kepadanya, apakah kami ini hamba sahaya ataukah orang merdeka! Jika kami ini hamba sahaya, serahkan saja kami kepada tuan-tuan kami.

Amru pun menjawab, “Mereka orang-orang merdeka dan terhormat!”

Ja’far berkata, “Pernahkah kami mengalirkan darah tanpa hak, sehingga mereka pantas melakukan menuntut balas kepada kami?”

Amru menjawab, “Tidak, meski hanya setetes.”

Ja’far bertanya, “Apakah kami pernah mengambil harta orang lain melalui cara yang tidak benar, sehingga kami harus menggantinya?”

Amru menjawab, “Tidak, meski hanya satu qirath (pecahan uang dinar)?

Najasyi bertanya, “Lantas, apa yang kalian tuntut dari mereka?”

Amru menjawab, “Dulu, kami dan mereka bersatu di atas agama nenek moyang kami, kini mereka meninggalkan agama itu dan mengikuti agama lainnya.”

Najasyi bertanya, “Apakah agama kalian dulu itu dan agama baru yang kalian ikuti?”

Ia juga berkata, “Katakan sejujurnya kepadaku!”

Ja’far menjawab, “Adapun agama kami yang dulu yang telah kami tinggalkan adalah agama setan. Dulu kami kufur kepada Allah dengan menyembah batu. Adapun agama yang saat ini kami ikuti adalah agama Allah, Islam. Agama itu disampaikan kepada kami dari Allah melalui seorang Rasul dan sebuah kitab yang mirip dan sesuai dengan apa yang dibawa oleh putra Maryam.”

Najasyi berkata, “Yang kau bicarakan ini persoalan besar! Maka, pelan-pelanlah jangan tergesa-gesa!” Kemudian Najasyi memerintahkan supaya dibunyikan lonceng. Maka semua pastur dan pendeta berkumpul.

Najasyi bertanya kepada mereka, “Atas nama Allah yang telah menurunkan Injil kepada Isa, aku bertanya kepada kalian, apakah kalian meyakini akan ada seorang nabi yang muncul di antara masa kehidupan Isa dan Hari Kiamat?”

Mereka menjawab, “Ya! Isa telah mengabarkan kepada kami mengenainya. Ia juga mengatakan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Nabi itu, berarti telah beriman kepadaku. Sedangkan barangsiapa yang kafir kepadanya, berarti telah kafir kepadaku.”

Najasyi pun berkata kepada ja’far ra, “Apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh pria itu kepada kalian? Apa pula yang dilarangnya,”

Ja’far menjawab, “Ia membacakan kitabullah kepada kami, memerintah kami berbuat makruf, melarang kami dari kemunkaran, memerintah kami bertetangga dengan baik, bersilaturahim, berbuat baik kepada anak yatim, dan memerintah kami beribadah kepada Allah saja; tiada sekutu bagi-Nya.”

Najasyi berkata, “Bacalah apa yang pernah dibacakannya kepada kalian!”

Ja’ far membaca surat Al-“Ankabut dan surat Ar-Ruum. Tiba-tiba kedua mata Najasyi bercucuran air mata. Ia berkata, “Bacakan lagi kepada kami sebagian dari kalimat indah ini!” Ja’far pun membacakan surat Al-Kahfi kepadanya.

Amru bermaksud memancing kemarahan Najasyi. Ia berkata, “Mereka itu sering mencela Isa dan ibunya!”

Najasyi pun bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa dan ibunya?”

Ja’far membacakan kepada mereka surat Maryam. Ketika ia sampai pada ayat yang menyebut tentang Isa dan ibunya, Najasyi mengangkat jerami yang sangat kecil, lantas ia berkata, “Demi Allah, Al-Masih tidak sekulit ari pun melebihi apa yang kalian katakan.”

Mengenainya, turunlah firman Allah:

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasulullah (Muhammad), kamu melihat mata mereka “makan air mata disebabkan kebenaran (AI-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata. ‘Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhannmd SAW). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Rabb kami memasukkan kami ke dalam golongan orang yang sholeh?

(Al-Maidah [51:83-84)

Maka Najasyi memandang Ja’far, kemudian berkata, “Pergilah, kalian semua aman di negeriku! Siapa yang memaki kalian akan didenda. Hari ini tidak ada kompromi terhadap sikap yang bermusuhan dengan para Pengikut ajaran Ibrahim!”

Kematian Najasyi

Ketika Najasyi meninggal dunia, Rasulullah SAW, keluar rumah lantas melaksanakan shalat ghaib untuk jenazahnya. Orang-orang munafik mengatakan, “Dia menshalatkan orang kafir yang mati di negeri Habasyah!”

Maka, Allah menurunkan firman-Nya:

“Sesungguhnya di antara ahlul kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Rabb-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.” (Ali “Imran [3]: 199)

Sumber :

Mukhtasar Siratur Rasul : Muhammad bin Abdul Wahhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s