Serial Kultum Subuh DKM#1

Pagi yang dingin hari ini, dengan sedikit rintik gerimis menyapaku, agenda rutin setelah shalat subuh di masjid adalah kultum (kuliah tujuh sampai sepuluh menit), dengan jadwal pembicara internal dari jamaah masjid yang telah kami susun sesuai kesepakatan bersama, secara bergiliran bagi yang siap dan bersedia untuk memberikan sharing.
Kesempatan sharing kali ini terkait materi kultum subuh hari ini yang barusan disampaikan oleh salah seorang jamaah, yang menurutku bagus untuk kita renungkan bersama. Beliau menyampaikan sebuah ayat Alquran surat Thaha ayat 125-126.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. “Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamipun dilupakan”. (Q.S. Thaha: 125-126).

Berawal dari materi kultum subuh hari ini, berikut sharing rangkuman materi yang telah aku susun dari beberapa sumber semoga bermanfaat untuk sahabat semua, 

Dalam mengupas ayat ini dalam kitab tafsirnya ibnu katsir menyebutkan :

”Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Ku,” yaitu menyalahi perintah yang telah Aku turunkan kepada rasul-Ku, melupakannya, dan mengambil selain petunjuk rasul itu, ”maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” di dunia sehingga dia tidak memiliki ketenteraman dan kelapangan dada. Bahkan hatinya itu sempit lantaran kesesatannya, walaupun ia dianugerahi harta dunia yang melimpah. Dunia itu tidak dapat meloloskannya kepada keyakinan dan hidayah. Dia senantiasa berada dalam kegalauan, kebimbangan, dan keraguan. Sementara di akhirat ada azab kubur yang menantinya.”

Allah Swt mengingatkan kepada orang-orang yang berpaling dari peringatan-Nya (yakni agama yang diturunkan Allah) bahwa ia akan mendapatkan 2 sangsi.

Sangsi pertama adalah di dunia berupa kehidupan yang sempit (sulit). Ayat ini menggunakan kata ‘Ma’isyah’ [مَعِيشَةً] yakni bentuk umum dari kehidupan umat manusia yang banyak aspeknya. Ketika kehidupan yang bersifat umum menjadi sulit maka betapa ruginya ia. Artinya barang siapa yang berpaling dari peringatan, seruan dan agama Allah, maka seluruh aspek kehidupannya menjadi sempit (mengalami kesulitan).

Dalam kehidupan ada sisi-sisi kehidupan rumah tangga, ekonomi, sosial, dan lainnya. Sehingga istilah ‘Maisyatan dhonka’ [مَعِيشَةً ضَنكًا] dalam konteks yang makro seperti berbangsa dan bernegara, menjauhi atau melupakan Agama Allah dapat menyebabkan bangunan kehidupan bernegara menjadi rapuh, selalu dirongrong berbagai macam bentuk gangguan yang menghinakan bangsa itu sendiri. Inilah yang disebut sebagai krisis multi dimensi, yakni kehidupan global yang dibelit dengan berbagai persoalan yang tidak ada ujungnya. Yang demikian itu merupakan akibat seseorang atau bangsa ini berpaling dari agama Allah, yang diawali dengan kondisi hati yang tertutup, menolak, lalai dari peringatan Allah. Kehidupannya menjadi sulit meski hartanya banyak. Hatinya kerdil, hampa, tidak ada ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki.

Kita telah menyaksikan bagaimana itu semua terjadi pada kondisi umat secara umum. Keberkahan betapa sulit diraih. Rizki dalam bentuk benda bisa banyak melimpah tapi tidak ada keberkahan di dalamnya. Inilah yang membuat jiwa (hati) tidak bahagia dan damai secara hakiki. Sebab ini adalah konsekuensi yang terjadi pada siapapun baik individu maupun kolektif yang berani berpaling dari agama Allah.

Agama Allah adalah karunia terbesar dan sempurna. Agama merupakan petunjuk bagi manusia untuk mengenal Allah. Di saat mendekat kepada Allah maka Allah turunkan ketenangan dan kedamaian yang hakiki.

Konsekuensi kedua adalah yang akan diterima di alam akhirat yang belum pernah kita lewati. 

Wanahsyuruhu yawmal qiyaamati a’maa [وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى].

”Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” 

Selanjutnya Ibnu katsir menjelaskan,

“Ikrimah berkata, ”Dia dibuat buta terhadap segala perkara kecuali Jahanam.” Mungkin pula yang dimaksud oleh ayat ini ialah Allah akan membangkitkan atau menghimpunkannya ke dalam neraka dalam keadaan buta mata lahir dan batin.

Hal ini seperti firman Allah, ”Dan Kami akan menghimpunkan mereka pada hari kiamat di atas wajah mereka dalam keadaan buta, bisu, dan tuli. Tempat tinggal mereka adalah Jahanam.” (al-lsra’: 97). Karena itu, dia berkata, ”Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu” ketika di dunia ”adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, ”Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami maka kamu melupakannya, dan begitu pula hari ini kamu pun dilupakan.” Tatkala kamu berpaling dari ayat-ayat Allah dan kamu memperlakukannya seperti perlakuan yang tidak mengingatnya setelah ayat itu disampaikan kepadamu, dan kamu pun berpaling dan melupakan ayat-ayat itu, maka hari ini pun Kami akan memperlakukanmu dengan perlakuan orang yang melupakanmu. ”Maka pada hari ini Kami melupakan mereka sebagaimana mereka telah melupakan pertemuannya dengan hari ini.” Barangsiapa yang menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri.”

Allah akan himpun orang-orang yang berpaling dari Agama Allah dengan keadaan buta. Buta dari pertolongan (syafa’at) Allah, sebab saat ia melihat amal-amalnya yang akan dipertanggungjawabkan begitu banyak kekurangan dan kekeliruannya, begitu banyak dosa-dosa yang telah dilakukan dan tidak ada yang menolongnya. Ia terlunta-lunta, buta, sulit bergerak dan bingung untuk melangkah. Inilah konsekuensi kedua yang akan diterima di mahsyar nanti ketika alam jagad raya hancur, kemudian semua manusia dibangkitkan dalam kubur dan dihimpunkan di padang mahsyar. Di situlah manusia akan menerima balasan yang setimpal dan sesungguhnya. Sekecil apapun amal baik atau buruk akan diperlihatkan.

Inilah konsekuensi yang dipertegas Allah bahwa hidup ini bukanlah milik kita. Hidup ini adalah anugerah Allah. Apabila hidup ini milik kita maka pertahankan sampai apanpun. Tapi karena kehidupan ini adalah semata-mata anugerah Allah maka kita mesti tunduk pada aturan Allah. Sebab aturan Allah bertujuan untuk membahagiakan kita sendiri sebagai ciptaan-Nya.

Dalam menafsirkan ayat ini beliau ibnu katsir juga menyampaikan tentang mereka yang lupa terhadap bacaan Al-Qur’an, sedang maknanya tetap dipahami dan ketentuannya dilaksanakan, maka tidaklah termasuk ke dalam ancaman ayat ini, walaupun hal itu diancam dari segi lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sa’ad bin Ubadah r.a., dari Nabi saw. Bersabda :

”Barangsiapa yang menghafal all-Qur“an lalu dia lupa, maka dia bertemu dengan Allah pada hari pertemuan dengan-Nya dalam keadaan berpenyakit kusta. ” (HR Ahmad)

Mudah-mudahan kita terhindar dari ancaman berat tersebut, dan termasuk orang-orang yang merespon Agama Allah dengan hati yang tulus, kepasrahan yang total. Yakinkan bahwa di balik Agama Allah ini justru terdapat kebahagiaan, dan bukan keuntungan untuk Allah tapi untuk hamba-hamba-Nya. Allah ingin membahagiakan hamba-hamba-Nya sejak di dunia ini hingga akhirat yang abadi.

Wallahu a ‘lam …

Bandung, 28 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s