Peretas berkompetisi di Final Cyber Jawara

DENPASAR, Sebanyak 20 tim dari berbagai kota berlaga di final kompetisi peretas (hackers) nasional Cyber Jawara di Bali. Para pemenang akan mewakili tim Indonesia di Cyber SEA Games tingkat Asia Tenggara.

“Cyber Jawara adalah ajang mengumpulkan potensi anak muda se Indonesia yang memiliki kemampuan meretas (hacking) di atas rata-rata,” kata Ketua Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (ID-SIRTII), Rudi Lumanto, Selasa (27/9).

Dua puluh tim yang berlaga di final terdiri dari 15 tim pemenang babak penyisihan secara daring dan lima tim undangan, di antaranya pada juara Cyber jawara sebelumnya, dari Kementerian Pertahanan. Lima tim undangan adalah Bolsel Cyber, HIU, Macan, Kang Parkir, dan Knocking Security.

Lima belas tim yang lolos ke babak final adalah Cilok Anget, Three Way Handshake, Al Kahfi, Indonesian Under Team, Polahi, Jagoan Mama, Gethuk, Nahi Munkar, Zapa Tista, Poe Crew, Cyber Art Creative, Raden Fatah Cyber Moslem, Raliable, Tim Petir, dan Ultra Team. Pemenang akan diumumkan Kamis (29/9) malam.

Para peretas diberi wadah untuk menyalurkan keahlian mereka membela pertahanan negara. Mereka diharapkan dapat meningkatkan kemampuannya secara positif. Kegiatan ini juga diharapkan dapat mempersatukan peretas dari berbagai wilayah. Mereka dapat berkompetisi dan bersinergi untuk menjaga pertahanan negara.

Jika lolos di level Asia Tenggara, tim Indonesia akan mengkuti kompetisi serupa di Tokyo, Jepang, untuk level Asia Pasifik, dan Las Vegas, Amerika Serikat, untuk level dunia.

Tim dari Kementerian Pertahanan selama dua tahun berturut-turut menjuarai ajang kompetisi ini. “Kami memiliki 150 personel andal yang fokus bekerja setiap hari dari beberapa angkatan,” kata Kepala Badan Pendidikan dan latihan Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin. 

Rata-rata siber nasional mengalami 89 juta serangan sepanjang Januari-Juni 2016. Kompetisi Cyber Jawara menguji tiga jenis kemampuan.

Pertama, kemampuan peserta mempertahankan server yang dimiliki sekaligus menyerang secara acak 19 server lainnya yang digawangi oleh tim lawan (Computers Network & Defense atau CND).

Kedua, kemampuan mencari kelemahan sistem yang diberikan panitia. Peserta diberi sejumlah range IP dan harus bisa menemukan titik lemahnya atau token. Uji ini dikenal biasanya dengan istilah penetration test (Pen Test).

Ketiga, kemampuan menyelesaikan masalah atau tantangan yang diberikan oleh panitia dengan tajuk capture the flag (CTF). Peserta akan dinilai kemampuannya mengetahui apakah ada eksploitasi terhadap suatu sistem atau aplikasi, kemampuan kriptografi, kemampuan stegano, forensik digital, dan lain-lain.

Sumber : Republika 28 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s