Pahala dan Siksaan yang disegerakan di dunia

Dalam obrolan ringan di salah satu group wa yang saya ikuti, ada sahabat yang menggulirkan pertanyaan yang cukup menggelitik yaitu tentang pahala dari Allah yang disegerakan di dunia, terkait dengan amal kebaikan dan hukuman dari Allah yang disegerakan di dunia terkait dengan pelaku kemaksiatan dan dosa.

Diskusi berjalan cukup menarik dengan beberapa celotehan celotehan ringan, karena kami sama-sama memahami bahwa group yang kami bentuk memang bukan untuk ajang perdebatan tetapi sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi yang sebelumnya terputus 25 tahun yang lalu dan juga untuk saling mengingatkan di antara anggotanya, untuk menuju kepada kebaikan bersama, sehingga kami merasa tidak ada yang lebih pandai dari yang lain, dan alhamdulillah sesama kami bisa saling memahami dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya. (semoga.com 😊)

Dari beberapa diskusi ringan dan beberapa masukan rekan anggota di dalam group tersebut, berikut ini saya coba sarikan semoga sahabat bisa mengambil manfaatnya. Saya coba gali dan kutip dari beberapa sumber, diantaranya adalah :

1. Kitab tafsir ibnu katsir jilid 1

2. Kitab Jamiul ulum wal hikam : Ibnu Rajab

———-//——–//———//———//———–//——–

Dalil Alquran terkait dengan balasan pahala bagi mereka yang beramal di dunia sudah cukup jelas terdapat dalam surat Ali Imran ayat 148,

{فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ} [آل عمران : 148]

Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s.Ali ‘Imran: 148).

Sedangkan dalil Alquran terkait dengan balasan di dunia bagi pelaku kemaksiatan atau perbuatan dosa terdapat di dalam surat Al Anfal ayat 25,

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال : 25]

Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim semata di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya. (25)

Di dalam tafsir ibnu katsir disebutkan sebagai berikut,

Allah Ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar waspada terhadap ujian dan cobaan yang berlaku merata kepada orang yang jahat dan selainnya. 

Ujian itu tidak hanya diberlakukan kepada pelaku kemaksiatan dan pelaku dosa langsung, namun meliputi keduanya secara tidak dapat dicegah dan dihilangkan.

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini dengan, “Allah menyuruh kaum mukminin agar jangan membiarkan orang munkar di tengah-tengah mereka, maka nanti azab akan meliputi mereka.” Penafsiran ini bagus sekali. Sehubungan dengan firman Allah Ta’ala, ”Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim semata di antara kamu”, Mujahid berkata, ”Fitnah itu pun bagi kamu.”

Ayat itu diturunkan sehubungan dengan para sahabat Rasulullah saw. dan selainnya. Pendapat yang mengatakan bahwa perintah waspada ini ditujukan kepada para sahabat dan selainnya, walaupun sapaan ditujukan kepada sahabat, maka inilah penafsiran yang benar. Kebenarannya ini didukung oleh sejumlah hadits yang berkenaan dengan perintah waspada dari fitnah. Di antara hadits yang lebih spesilik mengenai hal itu yang dapat dikemukakan di sini ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Hudzaifah bin al Yaman bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

”Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, hendaklah kamu menyuruh kepada kema’rufan dan hendaklah melarang dari kemunkaran, atau Allah nyaris mengirimkan kepadamu siksa dari sisiNya, lalu kamu memohon dengan sungguh-sunguh kepada-Nya, lalu Dia tidak memperkenankan doamu.”

Imam Ahmad meriwayatkan pula dari Hudzaifah, dia berkata: Jika ada seseorang menuturkan beberapa kalimat pada zaman Rasulullah saw. sedang dia tidak mengerjakannya, maka jadilah dia seorang munafik. Sungguh aku mendengar sebuah kalimat dari salah seorang di antara kamu pada suatu majelis yang diulang empat kali. Kalimat itu ialah, 

“Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, hendaklah kamu menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah kemunkaran, atau Allah menimpakan azab kepada kamu semua, lalu kamu berdoa, namun doa kalian tidak dikabulkan. (HR Ahmad) ”

Jika kemaksiatan merajalela pada umatku, maka Allah akan meliputi mereka dengan azab dari sisi-Nya. ” Aku (Ummi Salamah) berkata, ”Wahai Rasulullah, bukankah di tengah-tengah mereka ada orang-orang saleh,?” Beliau menjawab, ”Benar. ” Dia berkata, ”Lalu, bagaimana dengan mereka?” Beliau bersabda, ”Apa yang menimpa khalayak menimpa juga atas orang 

saleh. Kemudian orang saleh kembali kepada ampunan dan keridhaan dari Allah. ”

(HR Ahmad).

Dan sebagai pelengkap, terkait dengan dijatuhkannya hukuman kepada sebagian umat yang mengetahui ada kemungkaran tetapi tidak mampu melakukan perbaikan walaupun ia mampu untuk melakukannya, kami kutip beberapa hadist dari kitab jamiul ulum wal hikam karangan ibnu rojab sebagai berikut :

1. Abu Daud meriwayatkan hadits dari jarir Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

”Tidaklah seseorang berada disatu kaum dimana kemaksiatan-kemaksiatan dikerjakan pada mereka dan mereka mampu mengubahnya namun tidak mengubahnya melainkan Allah menurunkan hukuman pada mereka sebelum mereka meninggal dunia.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dan teksnya, 

“Tidaklah satu kaum dimana kemaksiatan-kemaksiatan dikerjakan pada mereka sementara mereka lebih kuat dan lebih banyak daripada orang-orang yang mengerjakannya namun mereka tidak mengubahnya melaikan Allah menurunkan hukuman kepada mereka semua.”

(HR. Abu Daud, Imam Ahmad, Ibnu Majah)

2. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Adi bin Umairah Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku mendengar Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah tidak menyiksa semua manusia karena perbuatan orang khusus (tertentu) hingga mereka melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka sementara mereka mampu mengingkarinya namun mereka tidak mengingkarinya. jika mereka berbuat seperti itu, Allah SWT menyiksa orang-orang khusus (tertentu) dan semua manusia.” (HR. Imam Ahmad)

3. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda di dalam khutbah beliau, “Ketahuilah, segan kepada manusia jangan sekali-kali menghalangi manusia untuk mengatakan kebenaran jika ia mengetahuinya. ”Abu Sa ‘id AI-khudri menangis kemudian berkata, ‘Sungguh, demi Allah kita melihat banyak hal kemudian kita segan. ” Hadits ini juga diriwayatkan Imam Ahmad dan ia menambahkan di dalamnya, ‘Karena ia tidak mendekat kepada ajal dan tidak jauh dengan rezki jika ia dikatakan dengan benar atau diingatkan tentang perkara besar. (HR. Ahmad)

4. Imam Ahmad dan Ibnu Majah Juga meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, “Salah seorang dari kalian jangan meremehkan dirinya. ”Para sahabat berkata Wahai Rasulullah, bagaimana salah seorang dari kita meremehkan dirinya?” Nabi SAW bersabda, ”Ia melihat perintah Allah pada dirinya terdapat perkataan (dalil), namun ia tidak berkata tentang perintah tersebut kemudian pada Hari kiamat Allah SWT berfirman kepadanya, “Apa yang menghalangimu berkata tentang Aku diperintah ini dan itu? ‘ Orang tersebut berkata, ‘Takut kepada manusia. ‘Allah berfirman, ‘Aku lebih berhak engkau takuti”. (HR. Ahmad) 

Wallahu a’lam …

Bandung, 26 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s