Kenikmatan Spiritual

Suatu ketika Nabi SAW berpesan kepada sahabatnya : Tiga perkara yang siapa saja mendapatkan, maka ia akan merasakan manisnya iman. Menjadikan Allah dan RasulNya lebih dicintai dari yang lain, mencintai seseorang semata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran seperti ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Bukhari). 

Syekh Qasim asy-Syamma’i ar-Rifa’i dalam syarahnya mengatakan, manisnya iman itu ibarat pohon. Batangnya sebagai pangkal iman. dahan laksana mengikuti segala perintah dan menjauhi larangan kembang bunga yakni segala kebajikan yang bermanfaat bagi orang mukmin dan buahnya adalah amal ketaatan [QS lbrahim [141:24-25) 

Hadis Nabi SAW di atas memberi inspirasi. paling tidak ada empat indikator pencapaian kenikmatan spiritual. Pertama, tenang saat membaca atau mendengar Alquran. Alquran adalah , firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi SAW. yang 
membacanya (menghafal). ibadah. 

Beruntunglah seorang yang tenang hatinya dikala membaca Alquran dengan tartil dan paham maknanya (QS [25):32,73:4). Damai pula hati saat mendengar lantunannya,’terdiam dan , menyimak dengan saksama (QS [7]:204,1 7:107]. Betapa nikmatnya jika untaian kalam illahi bisa membuat merinding, hati bergetar, dan berurai air mata (QS [8] :2, [71:204. [“) 71:91. Kita mesti bermujahadah mentadaburi, mengamalkan dan mengajarkannya. [HR Bukhari] 

Kedua tenang saat beribadah (zikir). Boleh jadi kita sudah beribadah sejak lama tapi adakah ibadah atau zikir itu melahirkan ketentraman jiwa? Sungguh, ibadah shalat, puasa, zakat. haji, dan zikir mestinya mendatangkan kedamaian hati seorang Muslim, hatta pikiran jernih dan produktivitas meningkat. [QS [31:191, [131:28. [211:45). 

Pernahkah merasakan nikmatnya shalat tahajud, zikir, dan berdoa di depan Ka’bah atau wukuf di Arafah? Tandanya tenang dalam ibadah yakni khusyuk, sungguh-sungguh, tidak buru buru. diperbanyak, dan abai urusan duniawi. Begitulah Nabi SAW dalam tahajud yang panjang hingga bengkak kakinya, karena rasa syukur (cinta) kepada Allah atas karunia iman yang dimilikinya. [HR Bukhari). 

Ketiga, tenang saat meninggalkan maksiat. Kenikmatan spiritual dapat dirasakan ketika mampu menjauhkan diri dari maksiat Setiap manusia pasti berdosa baik kepada Allah (ritual) manusia [sosial) maupun alam [natural] Setiap dosa dan kesalahan itu membuat kegelapan hati (ad-dzulumaat) yang akan melahirkan kezaliman 
Kemudian, ia sadar (ingat) kepada Allah dengan istighfar dan tobat maka ia merasakan ketenangan diri [QS [31:135-136 [71:23, [66):8). Begitu pun, jika mampu meninggalkan maksiat. Pernahkah merasakan kedamaian hati di saat tak jadi berbuat . maksiat. padahal situasi dan kondisi sangat memungkinkan? 
Rasa syukur pun bergelora dalam hati yang diliputi kesyahduan. 

Keempat, tenang saat menghadap Allah. Boleh jadi, inilah puncak kenikmatan spiritual. yakni tentram hatinya disaat men ‘ dapat kematian (sakaratul mauti) dan rindu berjumpa dengan Allah SWT [QS 18:110). Nabi SAW mengajarkan doa agar diberikan rahmat, ampunan dan kemudahan dalam kematian. 

Sumber : Republika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s