Tipologi Muslim Terhadap Alqur’an

Kata Pembuka

Idealnya seorang muslim setelah ia ridha menjadikan Allah sebagai Rabbnya, islam sebagai diinnya dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya, maka ia harus mengaplikasikan seluruh nilai-nilai Islam yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Ia harus senantiasa memegang teguh Al-Quran dengan membacanya, memahami maknanya, merenungkan isi kandungannya dan mengamalkannya dalam seluruh dimensi kehidupan. Itulah rahasia jawaban Aisyah; “akhlaknya adalah Al-Quran”, ketika ditanya apa akhlak Rasulullah SAW?.

Memang seharusnya manusia muslim senantiasa mempesona dengan nilai-nilai islam yang inherent dengan dirinya. Setiap gerak, langkah, ungkapan dan tindakan selalu terwarnai dengan niali-nilai agung itu. Akan tetapi setiap muslim tidak sama dalam merespon setiap nilai yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Maka hal ini akan mempengaruhi tingkat ketakwaan selanjutnya. Setiap muslim tidak berada dalam bobot yang sama. Ada yang sangat kurang, ada yang biasa-biasa dan juga ada di antara mereka yang sangat sempurna.

Sumber inspirasi 

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi.

Inti gagasan

Manusia muslim dalam menyikapi Al-Quran yang telah diwariskan kepada mereka tidak sama pada satu tingkat. Di antara mereka ada yang masih jauh dari yang diinginkan oleh Islam yaitu, orang yang masih menggabungkan antara ketaatan dan kemaksiatan dalam ruangan kehidupannya. Ada di antara mereka yang mengamalkan nilai-nilai Islam yang sifatnya fardhu saja tanpa menyentuh amalan-amalan sunnah. Dan di antara mereka ada yang mampu bertahan di puncak “saabiqun bilkhairat”. Yaitu manusia muslim yang mengaplikasikan nilai-nilai wajib, meninggalkan semua yang dilarang dan mampu juga membangun amlan-amalan sunnah dalam dirinya. Inilah tiga tipologi manusia muslim dalam menyikapi nilai-nilai Islam yang ada di Al-Quran.

Ada 3 tipologi manusia muslim dalam bersikap terhadap Al-Quran atau nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya. Mereka adalah “Dzalimun linafsihi”, “Muqtashidun” dan “Saabiqun bil Khairaat”

ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya (DEPAG), orang yang melakukan dosa-dosa kecil – dari sahabat Umar bin Khttab, Rasulullah SAW bersabda: “orang yang berlomba-lomba dari kita adalah orang yang berprestasi, orang yang sedang-sedang saja dalam berislam adalah orang yang selamat dan orang yang melakukan kedzaliman terhadap dirinya dalam berislam adalah orang yang diampuni Allah-. Dan yang termasuk dalam katagori “dzalimun linafsihi” ini adalah orang yang melakukan dosa besar dan mati sebelum ia bertaubat, dan atau Ahli maksiat. Orang yang munafik juga bisa masuk dalam golongan ini, begitu juga orang yang menyia-nyiakan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian muharramat. Meskipun kondisi mereka seperti ini, namun mereka masih termasuk ummat Muhammad dan Allah akan memasuk surganya dengan Syafaat nabi-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir dan Zaadul Masiir)

3 Tipologi manusia muslim

Ada 3 tipologi manusia muslim dalam bersikap terhadap Al-Quran atau nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya. Mereka adalah “Dzalimun linafsihi”, “Muqtashidun” dan “Saabiqun bil Khairaat”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang tiga golongan tersebut bahwa:

(1). “Dzalimun linafsihi atau orang-orang yang menganiaya diri sendiri adalah orang-orang yang meninggalkan kewajiban dan melakukan banyak maksiat.”

(2). “Muqtashid atau pertengahan adalah orang-orang yang hanya melakukan perbuatan wajib saja dan menghindarkan diri dai perbuatan maksiat, mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan melakukan perbuatan-perbuatan makruh (tercela).”

(3). “Sabiqun bilkhairat atau orang yang lebih dahulu  berbuat kebaikan adalah orang-orang yang melaksanakan kewajiban dan kebaikan-kebaikan lainnya, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram dan makruh, bahkan juga meninggalkan perbuatan yang mubah.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Dzalimun li nafsihi
Ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya (DEPAG), orang yang melakukan dosa-dosa kecil – dari sahabat Umar bin Khttab, Rasulullah SAW bersabda: “orang yang berlomba-lomba dari kita adalah orang yang berprestasi, orang yang sedang-sedang saja dalam berislam adalah orang yang selamat dan orang yang melakukan kedzaliman terhadap dirinya dalam berislam adalah orang yang diampuni Allah-. Dan yang termasuk dalam katagori “dzalimun linafsihi” ini adalah orang yang melakukan dosa besar dan mati sebelum ia bertaubat, dan atau Ahli maksiat. Orang yang munafik juga bisa masuk dalam golongan ini, begitu juga orang yang menyia-nyiakan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian muharramat. Meskipun kondisi mereka seperti ini, namun mereka masih termasuk ummat Muhammad dan Allah akan memasuk surganya dengan Syafaat nabi-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir dan Zaadul Masiir)

Orang-orang yang termasuk ke dalam golongan pertama ini adalah mereka yang tidak memperhatikan kewajiban yang harus mereka lakukan. Mereka meninggalkan dengan sengaja kewajiban-kewajiban seperti shalat, Puasa, dan kewajiban-kewajiban lain. Lebih parah lagi, mereka bukan hanya meninggalkan kewajiban, akan tetapi mereka justru melakukan perbuatan-perbuatan yang haram. Jadilah mereka orang-orang yang menganiaya diri sendiri karena meninggalkan kewajiban, dan pada saat yang sama mereka juga menganiaya diri sendiri dengan melakukan perbuatan yang diharamkan.

Muqtashidun
“Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, terkadang meninggalkan sebagian yang disunnahkan dan melakukan sebagian yang dimakruhkan. Mereka akan dihisab dengan hisab yang ringan dan akan masuk surga dengan rahmat Allah.

محمد بن الحنفية قال: إنها أمة مرحومة، الظالم مغفور له والمقتصد في الجنات عند الله والسابق بالخيرات في الدرجات عند الله.

“Muhammad bin al-Hanafiah berkata: “Sesungguhnya ummat ini adalah ummat yang dikasihi, yang mendzalimi dirinya akan diampuni, yang sedang-sedang (dalam berislam) di surga Allah dan yang berlomba-lomba dalam kebaikan berada di tingkatan atau derajat yang ada di Sisi Allah.”

Yang termasuk ke dalam golongan muqtashid ini, mereka merasa cukup hanya dengan melakukan kewajiban saja, sehingga meremehkan perbuatan-perbuatan baik lainnya (sunnah). Mereka mendirikan shalat wajib, melaksanakan puasa wajib, membayar shadaqah wajib (zakat), akan tetapi mereka meninggalkan shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah, dan tidak bershadaqah selain zakat. Disamping itu, meskipun mereka telah meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, akan tetapi meraka masih melakukan perbuatan-perbuatan makruh (tercela)

Shabiqun bil khairat
Ialah orang-orang yang kebaikannya amat banyak dan amat jarang berbuat kesalahan (tafsir Depag). Sementara Abu Al-Fida Ismail dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-’Adzim berkata:

وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ } وهو: الفاعل للواجبات والمستحبات، التارك للمحرمات والمكروهات وبعض المباحات }

“Orang yang melakukan kewajiban dan yang disunnahkan serta meninggalkan yang diharamkan, yang dimakruhkan dan sebagian yang dimubahkan.” mereka ini yang akan masuk surga dengan tanpa hisab dan berada di derajat yang paling tinggi di Sisi Allah”

Mereka yang termasuk ke dalam golongan ini tidak berhenti dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang diwajibkan. Akan tetapi mereka menambah kebaikan mereka dengan kebaikan-kebaikan lainnya (amalan-amalan sunnah). Shalat misalnya, mereka mendirikan shalat-shalat wajib dan menambah kebaikan dengan shalat-shalat sunnah rawatib, dan shalat-shalat sunnah lainnya. Begitu pula dengan puasa, mereka tidak hanya berpuasa di bulan Ramadhan, mereka juga berpuasa pada hari-hari yang di sunnahkan; Puasa ‘Arafah, ‘Asyura’, 6 hari Syawwal, shaumul bidh (tgl 13, 14, 15 bulan qamariyah), dan hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa, sampai pada puasa Daud. Demikian halnya dengan shadaqah. Orang-orang dalam golongan ini, disamping mereka meninggalkan perbuatan-perbuatan haram, mereka juga menjauhkan diri dari perbuatan yang makruh, bahkan perbuatan mubah (yang sebenarnya boleh) tetapi kurang bermanfaat juga mereka tinggalkan.

Kalimat penutup
Dengan memahami tiga golongan ummat ini yang berkaitan dengan mensikapi nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, maka perlunya setiap muslim melakukan langkah-langkah perbaikan agar menjadi golongan yang terbaik dari tiga yang ada. Menjadi hamba yang ideal dan selali mempesona dengan nilai-nilai rabbbani dalam setiap dimensi kehidupannya.

Sumber : http://www.almanar.co.id/

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s