Wasiat Rasulullah tentang fitnah akhir zaman …

Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Bersegeralah kalian untukberbuat amal saleh, karena akan muncul berbagai fitnah seperti penggalan-penggalan malam yang gelap-gulita, ada orang yang paginya beriman, sorenya kafir. Ada yang sorenya beriman, paginya kafir. Ia jual agamanya dengan barang perhiasan dunia.” (H.r. Muslim).

Ini adalah wasiat Rasulullah saw. kepada ummatnya, dimana dalam wasiat ini beliau memperingatkan, bahwa akan muncul suatu zaman yang di dalamnya terjadi berbagai fitnah antar manusia.

Fitnah di sini mungkin berarti kemaksiatan, mungkin pula kekufuran dan terjadinya dosa-dosa besar di kalangan kaum Muslimin. Sebagaimana juga mungkin fitnah ini berarti pelecehan seseorang pada ajaran-ajaran agamanya dan perintah-perintah Allah swt. Bisa juga berarti kafir kepada Allah, Rasul-Nya dan apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw. Mungkin juga bermakna pada keengganan untuk menegakkan rukun-rukun Islam, meski tetap mengakuinya. Artinya, bahwa seseorang itu Muslim, namun pada saat yang sama melakukan berbagai dosa. “Bersegeralah kalian berbuat amal saleh, karena akan muncul berbagaifitnah.”

Rasulullah memperingatkan kaumnya agar tidak malas dalam beribadat dan beramal saleh, sebaliknya harus memperbanyak keduanya. Setiap hari ketika anak Adam menemui pagi, maka saat itu ada kesempatan baginya yang harus ia manfaatkan dengan memperbanyak ketaatan, ibadat dan amal saleh. Dengan begitu, ia akan senantiasa taat kepada Tuhannya dan menjauhi segala larangan-Nya, sehingga akan bertambah kebaikannya, semakin berat timbangan amal kebajikannya dan terhapus dosa-dosanya.

“Adapun orang yang berat timbangan amalnya, maka dia berada dalam kehidupan yang diridhai. Dan adapun orang yang ringan timbangan amalnya, maka tempatnya adalah Hawiyah. Tahukah kamu (Muhammad) apakah Hawiyah itu? (Hawiyah) itu adalah api yang menyala-nyala.” (Q.s. Al-Qaari’ah: 6-11).

Yang dimaksud timbangan pada ayat di atas adalah amal-amal saleh. Rasulullah saw. tidak hanya memerintahkan berbuat amal saleh, namun menyuruh untuk bersegera di dalamnya, artinya cepat-cepat dalam mclaksanakannya dan tidak malas. Cepat dalam melaksanakan kebaikan dan mendulang kebajikan. Maka seseorang tidak mengetahui kemungkinan ia akan menjadi korban fitnah, yang menyebabkan dirinya berubah dari Mukmin menjadi kafir, dari seorang hamba yang taat menjadi pendosa. Mungkin sekali ada orang yang beramal dengan amal ahli surga, bahkan hingga jarak surga darinya tinggal sehasta, namun catatan kitab telah mendahuluinya, maka ia pun beramal dengan amalnya ahli neraka dan pada akhirnya masuk ke sana.

Rasulullah saw. demikian khawatir kepada ummatnya manakala lengah dari amal-amal saleh. Mungkin saja salah seorang di antara Anda bahkan menunda amalnya untuk esok hari. Padahal Allah swt. Maha Tahu apa yang akan terjadi esok. Karenanya, berhati-hatilah terhadap penunda-nundaan amal, karena waktu berjalan terus, dunia akan sirna dan fitnah-fitnah itu akan bermunculan terus.

Rasulullah saw. memberikan peringatan tegas kepada kita akan munculnya fitnah-fitnah ini, yang beliau umpamakan seperti penggalan-pcnggalan malam yang gelap-gulita. Saat itulah banyak manusia yang menjadi korban dari fitnah-fitnah tersebut, yang pada saatnya sulit diketahui antara yang Muslim dan non-Muslim. Seseorang diketahui sebagai Muslim, namun ia gemar minum khamer. Ini Muslim, namun senang bermain judi. Ini Muslim, namun ternyata tidak mau menjauhi apa yang menjadi larangan Allah dan tidak bersegera menunaikan perintah-Nya.

“Bersegeralah kalian untuk beramal saleh, karena akan muncul berbagai macam fitnah seperti penggalan-penggalan malam yang gelap-gulita, ada orang yang paginya masih beriman, sorenya sudah kafir, ada yang sorenya beriman, paginya kafir.”

Memang, di pagi hari beriman, mau salat bersama kaum Muslimin yang lain. Setelah itu sepanjang harinya ia lewati bersama mereka yang senang melanggar kehormatan orang lain dan terjerembab ke jurang kemaksiatan.

Fitnah-fitnah yang terjadi saat ini telah sedemikian meluas, dimana menyebabkan banyak pemerintahan yang mengaku Islam, namun ternyata melegalisasi praktik-praktik dosa besar.

Bukti untuk itu adalah apa yang memenuhi zaman kita ini, dari banyaknya pelanggaran terhadap ketentuan Allah. Dimana perlindungan serta jaminan terhadap hal-hal yang bisa kita saksikan dengan mata kepala kita atas aneka bentuk kemaksiatan, seperti bar-bar, gedung-gedung bioskop, pentas-pentas sandiwara dan tempat-tempat penjualan minuman keras yang dilegalkan.

Juga apa yang disajikan media cetak dan elektronik, dan ditayangkan media visual, yakni hal-hal yang bersifat pornografi, yang merobek-robek rasa malu dan mengumumkan perang kepada Rabbul Alamiin. Padahal, sangat dimungkinkan pemerintahan itu sebagai wahana bagi nilai-nilai keutamaan dan pembinaan, dalam rangka perbaikan kondisi kaum Muslim dan mendidik mereka untuk bertakwa dan takut kepada Allah swt.

Sesungguhnya, “Akan muncul berbagai fitnah seperti penggalan-penggalan malam yang gelap-gulita, ada orang yang paginya Mukmin sorenya sudah kafir,” artinya, ia keluar dari rumahnya dalam keadaan taat, namun ketika kembali sudah berlumur kemaksiatan.

Sesungguhnya seorang Muslim sejati adalah orang yang paling hati-hati dan takut terhadap kemaksiatan dengan segenap jalannya. Banyaknya kemaksiatan itulah yang akan memunculkan tabir hitam pekat yang menghalangi dirinya dari bersitan cahaya dengan Tuhannya. Ada bersitan cahaya yang akan memanjang sampai ke cahaya Ilahi.

Cahaya ini akan terputus manakala seorang hamba terjerembab ke dalam kemaksiatan. Demikianlah, kemudian Rasulullah saw. melanjutkan penjelasan tentang kekhawatiran beliau akan bahaya fitnah, seraya bersabda, “Ada yang sorenya beriman, paginya sudah kafir.”

Memang, ada orang yang di malam hari terus-menerus melakukan qiyamul lail dan beribadat serta membaca Al-Qur’an. Sepanjang malamnya berada dalam hubungan dengan Allah. Tiba-tiba setan-setan dari golongan jin dan manusia menggodanya, sehingga ia terperangkap dalam jebakannya. “Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Q.s. Al-An’am: 112).

Sedangkan bagian akhir dari hadis ini adalah, “Ia jual agamanya dengan barang perhiasan dunia.” Ini adalah akhir dari segalanya dan merupakan buah dari fitnah, hasil dari sebuah kemalasan dan ketun-dukan pada kemaksiatan.

Anda akan menjumpai orang yang tidak segan-segan memberi kesaksian palsu, agar dengan demikian atasannya merasa senang. Ini merupakan barang perhiasan dunia. Ada yang melakukan praktik jual-beli dengan menipu, maka ini yang disebut menjual agama dengan barang perhiasan dunia.

Seseorang berbohong kepada istrinya, kemudian memancingnya untuk berlaku yang tidak diridhai Allah, maka ini adalah barang perhiasan dunia. Ia menyuruh dan memaksa anak-anak gadisnya untuk tidak mengenakan busana Islami, tidak menunaikan salat dan tidak komitmen terhadap ajaran agama. Karena dunia sudah sedemikian menyibukkannya sampai lupa akan anak-anaknya. Ia pun membukakan bagi mereka pintu-pintu neraka dan menutup pintu-pintu surga serta mengharamkan mereka untuk berbuat baik. Semua ini merupakan barang perhiasan dunia.

Seorang wanita menolak pinangan seorang laki-laki Muslim yang mau menjalankan salat, zakat, beristiqamah, paham akan ma’rifat Tuhannya dan komitmen terhadap syariat Allah, sementara pada saat yang sama, wanita itu justru memilih seorang pemabuk, suka begadang untuk melampiaskan nafsu syahwat dan hura-hura serta mengobral kekayaan. Wanita macam ini telah menjual agamanya dengan barang perhiasan dunia yang fana. “Sungguh akan celaka hamba dinar… akan celaka hamba dirham!”

Seorang Muslim hakiki adalah orang yang sabar terhadap bujukan-bujukan dunia dan waspada terhadap apa-apa yang dibuat indah oleh setan, jin dan manusia. Semuanya itu adalah barang perhiasan yang akan sirna. dimana semua itu akan menemani anak Adam dalam waktu sekejap, kemudian secara tiba-tiba ia harus berada di haribaan Tuhannya dalam liang lahat yang sempit, dimana barang perhiasan dan godaan-godaan dunia tersebut tidak kuasa untuk memberikan pertolongan. Bahkan ia akan mendapati dirinya sendirian. Saat itu ia akan mengingat firman Allah swt, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan turun kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti, dan setiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Q.s. Maryam: 93-5).

Saat itulah seseorang tidak akan menghiraukan barang perhiasan dunia yang dulu pernah menguasai dan membuatnya lupa. Karena tidak satu pun barang perhiasan dapat menolong dan tiada setan pun yang memberi manfaat.

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali syafaat orang Yang Dzat Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak bisa meliputi ilmu-Nya. Dan tunduklah semua muka dengan berendah diri kepada Tuhan Yang Maha Hidup, Yang Kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sungguh, telah merugi orang yang melakukan kezaliman.” (Q.s. Thahaa: 109-11).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s