4 Kriteria Manusia terhadap Al Quran

Dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. yang berkata, bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah limau, baunya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma, tidak mempunyai bau, namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan minyak wangi, baunya wangi, tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti handhalah (sejenis labu), tidak mempunyai bau dan rasanya pahit.”

(H.r. Muttafaq Alaih).

Hadis mulia ini membagi manusia menjadi empat bagian: Pertama : Baik semuanya, baunya wangi, menyenangkan, enak di saat sepi dan ramai. Ini adalah kriteria yang mencakup seluruh kaum Mukminin yang mengamalkan dan membaca Al-Qur’an. Mereka ini diumpamakan oleh Rasulullah saw. seperti sejenis buah limau. Buah ini baunya wangi dan rasanya pun enak, sehingga baik semuanya.

Sebuah renungan awal yang mesti kita cermati dari kalam Nabi saw, dalam hadis ini, “Perumpamaan seorang Mukmin.” Rasulullah hanya mengatakan itu, tidak mengatakan, “Perumpamaan seorang Mukmin yang jujur,” atau, “Seorang Mukmin yang bisa dipercaya, seorang Mukmin yang mulia, seorang Mukmin yang baik, seorang Mukmin yang salat, seorang Mukmin yang zakat, seorang Mukmin yang puasa atau seorang Mukmin yang haji.”

Ini menunjukkan bahwa sudah menjadi kesepakatan dan pemahaman sejak awal, bahwa seorang Mukmin itu jujur dengan fitrahnya, bertabiat menerima apa adanya (rela), dengan fitrah keimanannya memiliki pemahaman yang baik, berciri-ciri dan bersifat bersih.

Jadi definisi seorang Mukmin dalam hadis di atas adalah seorang yang salat, zakat, puasa dan haji. Ia adalah orang yang qanaah dan bisa dipercaya. Ia rela atas keputusan Allah dan senantiasa dalam kebaikan. Ia tidak pernah iri dan dengki, tidak pernah marah, memberontak ataupun berbuat zalim.

Seorang Mukmin sepatutnya mempunyai sifat-sifat terpuji dan ciri-ciri yang baik, yang bisa dijadikan standar bahwa itulah sifat-sifat dan ciri-ciri orang-orang beriman.

Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengibaratkan seorang Mukmin semacam ini dengan “buah limau” yang baunya wangi dan rasanya enak. Seorang Mukmin yang jujur, bisa dipercaya, baik kepada Tuhannya, taat kepada scgala apa yang diperintahkan dan menjauhi segenap yang dilarang, tidak mungkin didapati dalam dirinya bau tidak sedap, karena rasa imannya diterima di sisi Tuhannya. Ia akan bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Ketika Anda duduk di sampingnya, Anda akan merasakan bau yang wangi. Anda tidak akan enggan untuk menjadikan sahabat, tidak akan cnggan untuk makan, minum dan berpakaian bersamanya. Anda pun tidak akan segan untuk mengutarakan rahasia kepadanya, karena ia pasti dapat menjaga rahasia.

Struktur kepribadian seorang Mukmin adalah yang terbaik dari yang pernah ada dalam diri manusia. Struktur kepribadian yang unik dengan kesempurnaan dan penerimaan (di sisi Tuhan).

Jika sifat-sifat seorang Mukmin adalah sebagaimana yang kita sebutkan di atas, maka jika ia membaca Al-Qur’an, akan menebarkan bau wangi. Bacaannya akan memiliki cita rasa tersendiri di telinga orang yang mendengarkan. Akan bisa memberi petunjuk kepada mereka yang diam merenungkan maknanya. Karena di saat membaca Al-Qur’an, terlebih dahulu ia membacanya dengan ruh, hati dan segenap inderanya, sebelum membaca dengan lisannya. Ketika membaca, lisan tidak ubahnya hanya sebagai alat penerjemah dari apa yang ada dalam hati, pcrasaan dan nuraninya.

Ketika orang-orang tengah berkumpul di sisi seorang Mukmin yang membaca Al-Qur’an, mereka pasti akan mendapatkan rasa lain dan makna-makna yang senantiasa baru saat mendengarkannya. Mungkin mereka telah membaca Al-Qur’an berkali-kali, namun ketika mendengarkan bacaan itu dari kaum Mukminin, mereka seolah membaca makna-makna, goresan-goresan dan perasaan-perasaan baru yang melingkupi dan menjadikan mereka hidup dalam pancaran cahaya nurani dan kekhusyu’an.

Seorang Mukmin yang membaca Al-Qur’an, kita akan mendapatinya tenggelam dalam bacaannya dengan cara yang sungguh menakjubkan. Bacaannya itu akan mengantarkannya dari alam rasa (alam hissi) yang ada di sekelilingnya menuju alam Qur’ani yang ia baca. Mungkin ada yang memanggilnya, namun ia tidak mendengarkan, disebabkan sudah demikian tenggelam dalam bacaan Qur’annya. Al-Qur’an akan tenggelam bersama dirinya saat ia membaca. Saat itulah ia benar-benar hidup di alam Qur’ani. Ia berbaur dengan Al-Qur’an, sebagaimana Al-Qur’an juga menyatu dengan dirinya. Ia bersama Al-Qur’an di saat sepi, ramai dan bangkitnya. Ia hidup dan berjalan sesuai petunjuknya.

Seorang Mukmin yang membaca Al-Qur’an akan benar-benar disibukkan dengan perkara Khaliknya, yakni Allah Rabbul Alamiin. Ia adalah hamba Allah yang mencintai-Nya, maka Dia pun mencintai sang hamba tadi. Seterusnya Allah menunjukkan dirinya kepada kitab-Nya untuk bisa berinteraksi dengan berbagai maknanya. Berinteraksi dengan maksud dan tujuannya dengan penuh mahabbah, taqarrub, mawaddah dan kerinduan kepada Allah swt.

Seorang Mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti ini, akan taat kepada Tuhannya dengan penuh mahabbah dan mawaddah serta penuh ihsan dalam memahami apa yang ia baca. Ketika taat kepada Allah dalam membaca Al-Qur’an, ia akan tenggelam dengan ketaatannya sebagaimana bacaan Al-Qur’an itu tenggelam bcrsamanya. Ia akan tenggelam dengan salatnya, sehingga bisa disibukkan dari yang lainnya. Ia akan tenggelam bersama zakatnya, maka ia pun menunaikannya pada puncak kekhusyu’an dan tawadhu’ di haribaan Allah swt, sehingga ia merasakan bahwa ia seolah yang mengambil, bukan yang memberi. Dalam relung hatinya, ia berkata, “Ya Allah, harta ini dari-Mu dan kukembalikan kepada-Mu. Maha Suci Engkau, aku bersyukur kepada-Mu yang telah menjadikan aku sebagai pemberi dan bukan sebagai peminta-minta. Maha Suci Engkau, bagaimana aku bisa membahasakan syukur kepada-Mu? Sungguh aku tidak mampu melukiskan dengan kata-kata akan syukur dan kedermawanan-Mu kepadaku!”

Saat itu ia merasa bahwa pemberian tersebut bukan datang dari dirinya, namun dari Allah. Akan tetapi, Allah memuliakannya dan menjadikannya pcrantara antara Dia dan hamba yang menerima. Dcmikian pula ibadat-ibadat lain dan akhlaqul karimah yang dimilikinya, senantiasa menjadikan dirinya asyik dengan ketaatan dalam melakukannya.

Pembaca Al-Qur’an adalah teman duduk Yang Maha Rahman, tamu Allah. Karena itu, barangsiapa ingin diajak berdialog oleh Allah, hendaklah membaca Al-Qur’an. Dan barangsiapa ingin berbicara dengan-Nya, maka hendaklah ia masuk di dalam salat.

Jika pembaca Al-Qur’an adalah teman duduk dan kekasih Allah, tentu saja yang harus tampak dalam diri sang qari’ ini adalah tatakrama yang tingggi dan makna-makna agung serta sifnt-sifat mulia, yang menjadikannya layak untuk bertemu Allah swt.

Seorang qari’ adalah orang yang mempunyai akhlaqul karimah, penuh tawadhu’, taat kepada Allah dalam keadaan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mau berinfaq di jalan-Nya, menjaga salat lima waktu dan rukun-rukun Islam lainnya dan membersihkan jiwanya dari riya’ dalam amal perbuatan. Setelah itu, bila memungkinkan, berwudhu’ dan salat dua rakaat. Lantas menghadirkan hati, ruh dan perasaannya. Kemudian memegang mushaf dan membaca shalawat atas Nabi. Setelah itu, berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Memulai tilawah dengan penuh keikhlasan hati dan kesucian jiwa. Tenggelam dalam tilawah, maka akan keluar makna-makna baru yang mungkin hal itu bisa menjadi sebab adanya perubahan seketika dalam kehidupannya, dari kegelapan menuju cahaya dan dari kesempitan menuju kelapanganjiwa.

Kedua : Perumpamaan seorang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an adalah bagaikan kurma, tidak berbau tetapi rasanya manis.

Menyimak hadis ini, berarti ada seorang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, namun tetap yakin dan percaya terhadap Kitab Allah, Keesaan Allah dan diutusnya Muhammad saw. Ia juga masih percaya dengan salat, maka ia laksanakan, percaya dengan zakat, maka ia tunaikan, percaya dengan puasa, maka ia lakukan, dan percaya dengan haji, maka ia pun melaksanakan perintah itu di kala mampu. Tidak diragukan lagi, bahwa ia seorang Mukmin. Mukmin bahwa Allah itu Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Mukmin kepada malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, hari akhir, qada’ dan qadar yang baik atau buruk.

Seorang Mukmin semacam ini mungkin tidak membaca Al-Qur’an, karenanya saat itu ia bagaikan kurma. Di dalamnya ada rasa manis dan penuh gizi. Kurma disenangi tidak dicampakkan, dicintai tidak dibenci.

Seorang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, bagaikan kurma yang rasanya manis, akan tetapi tidak berbau. Hanya manis rasanya, namun pada saat yang sama tidak menimbulkan bau yang tidak scdap, karena memang tidak berbau.

Seorang Mukmin pada kriteria kedua dari hadis ini, kehilangan karakteristik dari Mukmin yang pertama, yakni bau yang wangi. Akan tetapi, sama dalam hal manisnya rasa dan enaknya selera.

Sama-sama punya rasa manis karena kesamaan mereka dalam akidah dan iman kepada rukun Islam, malaikat, Kitab dan Rasul-rasul. Perihal ia kehilangan karakteristik pertama, yakni bau wangi yang didapat ketika kelompok pertama ini rajin membaca Al-Qur’an dan bercengkerama dengan Rabbul Alamiin — jika demikian kekurangannya, berarti ia mampu menaiki tangga kepada derajat Mukmin pertama dengan cara membaca Al-Qur’an, merenungkan isinya, memiliki adab dan perilaku terpuji dan melempar jauh-jauh segala maksud duniawi yang ada di bclakangnya.

Kemungkinan seorang Mukmin seperti ini akan dilipatgandakan pahalanya, karena kebaikan niat, keinginan kuat untuk mau mendengar, kecintaan yang sangat untuk naik derajat dan sampai pada posisi Mukmin pertama.

Jadi, seorang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an, namun tetap mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, ia tetap punya rasa manis, namun tidak mengeluarkan bau, seperti halnya kurma. Untuk Mukmin scmacam ini, hendaklah kita ingatkan, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an akan datang pada hari Kiamat, menjadi syafi’ (pemberi syafaat) bagi semua pembacanya!” (H.r. Muslim).

Dari Umar bin Khaththab r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab ini (bagi yang membacanya) dan akan menurunkan derajat kaum yang lain (jika tidak mau membacanya).” (H.r. Muslim).

Kelompok ketiga dalam hadis ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Dan perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an adalah bagaikan minyak wangi, baunya wangi tapi rasanya pahit.”

Tidak menutup kemungkinan ada seorang munafik yang membaca Al-Qur’an kemudian didengarkan oleh seorang Mukmin yang jujur dengan keimanannya, sehingga ia bisa mengambil manfaat, dan bertambah keimanan serta pengetahuannya disebabkan bacaan orang munafik tadi. Orang munafik sendiri sama sekali tidak bisa mengambil manfaat dari bacaannya sendiri, akan tetapi baunya menebar dan memberi guna dan manfaat, artinya, suara dan bacaannya bisa didengar. Sebagaimana ungkapan penyair:

“Para tokoh itu bagaikan pohon yang berbuah Ambillah buahnya dan biarkan batangnya terbakar. Jadi sangat mungkin, ada orang yang membimbing Anda ke surga, sementara ia sendiri bukan ahli surga”. Dialah orang munafik yang amal perbuatannya tidak sesuai dengan ucapannya:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan (sesuatu) yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar murka Allah jika kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan.” (Q.s. Ash-Shaf: 2-3).

Orang munafik semacam ini juga memiliki kesempatan untuk berhenti dari kemunafikannya dan menaiki tangga ke derajat yang lebih tinggi, sehingga menjadi orang Mukmin yang membaca Al-Qur’an.

Kelompok keempat atau terakhir adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Dan perumpamaan seorang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an adalah bagaikan handhalah (sejenis labu), tidak mempunyai bau dan rasanya pahit.”

Ini adalah kelompok manusia paling brengsek, yakni terkenal karena kemunafikannya dan juga tidak mau membaca Al-Qur’an. Ia mungkin tidak naik, meski seperti kelompok ketiga tadi. Munafik pada kelompok ketiga tadi, memang ia itu munafik, tapi masih memberi guna dan manfaat kepada orang lain, bahkan mungkin ia menjadi penycbab orang lain bisa masuk surga. Namun munafik pada kelompok ini adalah munafik yang tidak mau membaca Al-Qur’an, yang sama sekali tidak memberikan guna dan manfaat. Ia tidak mempunyai bau wangi, dalam arti bahwa ia tidak membaca Al-Qur’an, sehingga tidak bisa memberikan faedah kepada orang lain. Tidak pula mempunyai rasa, kecuali rasa pahit. Persis seperti pohon labu, sebab ia adalah munafik pembohong.

Jika demikian, maka standar hubungan makhluk dengan Allah adalah kejujuran. Kejujuran yang akan mengeluarkan kita dari alam pembaca Al-Qur’an yang munafik dan hanya ingin dipuji.

Mengeluarkan kita dari alam kemunafikan yang mengaku Islam, namun sama sekali tidak mempunyai setitik nilai pun dari akidah Islam.

Kemunafikan adalah penyakit yang sangat berbahaya. Sebuah penyakit yang akan mewariskan kekufuran, kesombongan, kekerasan jiwa dan perasaan serta kematian nurani.

Bagi seorang Mukmin, ia akan memandang dengan kalbunya, barulah kemudian dengan matanya. Selanjutnya membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang diridhai Allah. Ia bisa memberi manfaat kepada dirinya sendiri dan juga kepada orang lain di sekitarnya yang turut mendengarkan bacaannya. Ia seperti buah limau yang baunya wangi, rasanya pun manis.

Terakhir, marilah kita renungkan sabda Rasulullah saw:

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu akan dilipat-gandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (H.r. Tirmidzi, dari Ibnu Mas’ud).

Kita bermohon kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa agar menjadikan Al-Qur’anul Karim sebagai penyejuk hati, cahaya pandangan nurani, pelepas rasa resah dan gelisah kita. Sebagaimana kita juga bermohon kepada-Nya agar menjadikan Al-Qur’an sebagai hujjah kita, bukan hujjah atas kelalaian kita. Mudah-mudahan kita bisa membacanya sesuai dengan yang diridhai dan diterima oleh-Nya. Semoga dari Al-Qur’an, Allah akan mengajarkan kepada kita segala sesuatu yang tidak kita ketahui, mengingatkan kita di saat lupa dan memberikan berkat di dalamnya, sehingga kita dapat mengambil manfaat darinya dan selanjutnya dapat pula memberi manfaat kepada yang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s