Mengintip Visi & Misi Ekonomi Capres Pilihan 2014

capres 2014 2Tahapan kampanye Pilpress 2014 sudah berjalan selama sepekan. Kedua pasangan calon beserta tim suksesnya pun sudah bekerja keras untuk mempengaruhi rakyat agar mencoblos mereka saat 9 Juli 2014 nanti.

Namun kampanye hitam, dari berbagai macam kejadian di media cetak, elektronik maupun social media sudah mulai marak, bahkan cenderung seperti perang antar media.

Mari kita tinggalkan kampanye hitam, kita coba belajar untuk membuka visi dan misi masing-masing calon Presiden.

Untuk yang pertama ini mari kita coba pelajari Visi-Misi Ekonomi masing masing kandidat capres.

Pasangan Capres/Cawapres nomor urut 1, Prabowo-Hatta memiliki delapan agenda dan program nyata untuk menyelamatkan Indonesia sebagai pelaksanaan dari Visi dan Misi mereka.

Dalam bidang ekonomi, pasangan ini berjanji membangun perekonomian yang kuat, berdaulat, adil dan makmur.

Sedangkan pasangan capres/cawapres nomor urut 2 Jokowi-JK mencanangkan visi kemadirian indonesia dalam bidang ekonomi.

Prabowo-Hatta dalam program nyata ekonominya menyasar peningkatan pendapatan per kapita penduduk Indonesia dari Rp. 35 juta sekarang menjadi minimal mencapai Rp. 60 Juta dalam 5 tahun ke depan. Peningkatan ini dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 (tujuh) persen per tahun menuju pertumbuhan di atas 10 (sepuluh) persen.

Cara untuk mencapainya, pasangan nomor urut 1 ini dengan strategi pertumbuhan ekonomi tinggi berkualitas melalui peningkatan pertumbuhan di sektor produksi sehingga dicapai keseimbangan optimal dengan pertumbuhan yang dipicu konsumsi.

Pendapatan perkapita Indonesia pada tahun 2013 menurut versi BPS adalah Rp. 36,5 Juta sedangkan menurut situs resmi setgab Pemerintahan SBY pada bulan Oktober tahun lalu menyebutkan pendapatan per kapita Indonesia sudah mencapai 4000 USD dibanding 1200 USD pada masa suharto dilengserkan.

Program nyata untuk meningkatkan pendapatan per kapita serta pertumbuhan ekonomi yang diusung Prabowo-Hatta dapat dikatakan cukup progresif, dimana pada saat Presiden berpidato di Gedung DPR/MPR pada 16 Agustus 2013 mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi periode 2009-2013 mencapai rata-data 5,9 persen per tahun, yang merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi.

Prabowo-Hatta juga berjanji meningkatkan pemerataan dan kualitas pertumbuhan ekonomi dengan mengurangi jurang antara si miskin dan si kaya (menurunkan Indeks Gini dari 0,41 menuju 0,31), kemudian juga meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari sekitar 75 menuju 85.

Dalam upaya membangun perekonomian yang kuat, berdaulat, adil dan makmur Prabowo-Hatta berjanji meningkatkan daya serap angkatan kerja menuju 2 juta lapangan kerja per tahun melalui perbaikan regulasi dan infrastruktur untuk industri pengolahan yang padat karya dan pembukaan lahan pertanian baru.

Kita lihat masa pemerintahan SBY, di depan para anggota DPR/MPR pada 16 Agustus 2013 Presiden SBY menyebutkan menurunnya tingkat pengangguran terbuka dari 9,86 persen pada 2004 menjadi 5,92 persen pada Maret 2013. Angka kemiskinan turun dari 37,2 juta orang pada 2004 menjadi 28,07 juta orang pada Maret 2013.

Pasangan Jokowi-JK tidak menyebutkan angka-angka sebagaimana pasangan Prabowo-Hatta dalam upaya kemandirian ekonomi. Mereka hanya menjanjikan tingkat kemiskinan pada 2019 di kisaran 5-6 persen. Dimana saat ini angka kemiskinan di Indonesia masih 11,7 persen dan pemerintah menargetkan akhir tahun 2014 berada di kisaran 8-10 persen saja.

Pasangan nomor 2 ini juga memandang pentingnya penekanan pada pemecahan pada 3 masalah utama yaitu : pembangunan manusia, kedaulatan energi dan kedaulatan pangan.

Kemudian Jokowi-JK juga akan mendedikasikan pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui penerbitan UU wajib belajar 12 tahun dengan membebaskan biaya pendidikan dan segala pungutan, baik di sekolah negeri maupun swasta. Seiirng dengan itu harus dilakukan upaya yang lebih serius dan lebih banyak untuk memberikan dukungan pendanaan.

Menurut Jokowi-JK dukungan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dalam bentuk pemberian beasiswa sebagai hak warga negara bagi siswa siswi didik untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan dari D3, S1, S2 dan S3 baik di dalam maupun di luar negeri.

Sumber : Republika

 

Catatan dari Wikipedia :

Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga merefleksikan PDB per kapita.

Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.

Koefisien Gini adalah ukuran yang dikembangkan oleh statistikus Italia, Corrado Gini, dan dipublikasikan pada tahun 1912 dalam karyanya, Variabilità e mutabilità.

Koefisien ini biasanya digunakan untuk mengukur kesenjangan pendapatan dan kekayaan. Di seluruh dunia, koefisien bervariasi dari 0.25 (Denmark) hingga 0.70 (Namibia).

Indeks Gini atau koefisien Gini adalah salah satu ukuran umum untuk distribusi pendapatan atau kekayaan yang menunjukkan seberapa merata pendapatan dan kekayaan didistribusikan di antara populasi. Indeks Gini memiliki kisaran 0 sampai 1. Nilai 0 menunjukkan distribusi yang sangat merata yaitu setiap orang memiliki jumlah penghasilan atau kekayaan yang sama persis. Nilai 1 menunjukkan distribusi yang timpang sempurna yaitu satu orang memiliki segalanya dan semua orang lain tidak memiliki apa-apa.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal. (lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Pengangguran)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s