Cerpen: Skandal Sex Mister LHO

skandal_sexKenalkan, nama saya Bedjo, seorang penulis pemula. Hari ini saya amat bahagia, karena baru saja UNTUK PERTAMA KALINYA berhasil menulis cerpen. Cerpennya berbau 17 ke atas pula. Asyik, bukan?

Karena cerpen pertama, pasti banyak kekurangan di sana sini. Untuk itulah, saya bawa cerpen ini ke seorang penulis senior berinisial A. Minta dibedah olehnya. Agar saya tahu di mana kekurangan naskah saya. Siapa tahu, nanti saya bikin cerpen lagi yang banyak, lalu diterbitkan di Dapur Buku. Kan asyik, tuh.

Dan tentang siapa si A ini, tak perlulah saya sebut namanya. Tak penting. Skandal sex pasti lebih menarik bagimu, bukan?

 

Begitu menyodorkan cerpen itu kepada A, tangan saya bergetar, jantung berdebar-debar. Ada rasa takut, cemas, khawatir, jangan-jangan karya pertama ini akan dibantai habis-habisan. Tapi saya berusaha tenang dan percaya diri. Namanya juga belajar, tentu harus siap menghadapi hal-hal seperti itu, bukan?

Untungnya, si A punya senyum yang sangat ramah. Hati ini pun jadi sedikit tenang.

“Cerpen apa yang kamu bawa itu?” ujarnya.

“Sebuah cerpen bertema korupsi yang berbalut skandal sex.”

“Oh ya?” matanya langsung berbinar-binar. Dasar playboy, di mana-mana sama saja! “Pasti sangat menarik. Bagaimana jalan ceritanya?”

“Apa saya harus menceritakannya? Apa tidak lebih baik jika Mas A membacanya saja? Nanti kan Mas bisa tahu sendiri, gimana ceritanya.”

“Kamu ini mau belajar atau ngajak debat?”

“Belajar, dong, Mas.”

“Kalau mau belajar, ayo sebutkan gimana ceritanya. Kalau mau berdebat, maaf saya tak ada waktu.”

“Hm… oke deh. Akan saya jelaskan. Begini ceritanya, Mas. Jadi di sebuah negeri yang tak jelas wujudnya, tersebutlah seorang ketua parpol berinisial LHO. Dia ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Komisi….”

“Maksud kamu Komisi Pemberantasan Korupsi?”

“Bukan, Mas. Ini namanya memang Komisi Pemberantasan Komisi. Disingkat KPK.”

“Oke, silahkan dilanjut.”

“Jadi, Mister LHO ini ditangkap karena diduga sebagai koruptor, diduga menerima suap dari seorang makelar bernama Pak Tonah, di mana Pak Tonah diduga masih satu partai dengan LHO, dan diduga keras bahwa….”

“Walah, banyak banget DIDUGA-nya!”

“Iya, Mas. Isi cerpen ini memang banyak berupa dugaan. Tapi pembaca nanti akan menganggap bahwa dugaan itu merupakan kenyataan.”

“O, gitu, ya? Oke, silahkan dilanjut.”

“Jadi, karena dugaan-dugaan itu, Mister LHO akhirnya ditangkap oleh KPK. Di tengah penyelidikan, Pak Tonah melakukan pengakuan bahwa Mister LHO tidak bersalah. Intinya, pengakuan dia telah mematahkan semua dugaan dan tuduhan terhadap Mister LHO.

Lalu Mister LHO dituduh lagi dengan pasal tindak pidana pencucian daging sapi. Eh, tuduhan ini pun tidak terbukti. Gimana mau mencuci sapi? Wong sapinya aja belum diterima. Benar gak, Mas?”

“Iya, deh. Atur aja!”

“Namun terlepas dari tuduhan dan dugaan yang tak terbukti itu, Pak Tonah ternyata terlibat dalam berbagai macam skandal sex dengan sejumlah wanita sexy. Lalu belakangan, Mister LHO pun diduga punya skandal sex dengan seorang perempuan berinisal DM.”

“DM? Maksud kamu Direct Message? Twitter dong!”

“Hehehe…, ini bukan DM yang di Twitter kok, Mas.”

“Oke, silahkan dilanjut!”

“Baik, Mas. Jadi Mister LHO ini diduga punya skandal sex dengan DM.”

“Hm, lagi-lagi DIDUGA, ya?”

“Ya, gitu deh, Mas. Di cerpen ini, saya juga bercerita bahwa Pak Tonah pernah tidur dengan seorang perempuan berinisial M. Lalu Pak Tonah juga pernah memberikan hadiah mobil kepada seorang perempuan lain bernama VS. Mungkin mereka pernah tidur bareng juga. Lalu…”

“Hei, tunggu sebentar! Saya merasa aneh dengan cerpen kamu ini. Jumlah tokohnya banyak banget!”

“Iya, memang banyak, Mas. Sengaja, biar rame. Hehehe….”

“Lalu ceritanya juga tiak fokus. Awalnya soal korupsi alias suap. Lalu beralih ke kasus pencucian sapi. Lalu tiba-tiba melenceng ke skandal sex. Kok bisa melebar ke mana-mana begitu, sih?”

“Ya, memang ceritanya seperti itu, Mas.”

“Tapi skandal sex itu tak ada hubungannya dengan korupsi, kan?”

“Jelas ada dong, Mas. Misalkan jika Mister LHO punya hubungan khusus dengan DM, dan LHO sudah memberikan banyak harta kepada DM. Tentu sangat kuat DIDUGA bahwa uang yang dia berikan itu merupakan hasil korupsi.”

“Lho, kata kamu tadi Mister LHO sudah terbukti tidak korupsi. Jadi gimana ceritanya, harta yang diberikan kepada DM adalah dari hasil korupsi?”

“Ya, memang tak ada ceritanya, Mas. Tapi kalau Mister LHO benar-benar punya skandal sex dengan DM, itu kan tidak baik, Mas. Dosa besar. Zinah. Memalukan bangsa!”

“Iya, betul, Perbuatan seperti itu – jika MISALNYA skandal sex-nya benar-benar ada – memang sangat memalukan, dan itu termasuk dosa besar. Tapi saya mau tanya pada kamu, nih. Tema cerpen kamu ini apa? Memberantas korupsi, atau membeberkan aib orang lain?”

“Ya, tema tentang korupsi dong, Mas.”

“Kalau tentang korupsi, ngapain masalah skandal sex juga dibahas? Kalaupun MISALNYA Mister LHO benar-benar ada skandal sex dengan DM… hm… ini cuma misalnya lho ya…, Bukankah itu merupakan urusan pribadi mereka? Bukankah itu aib yang seharusnya tidak diumbar ke ruang publik? Bukankah itu tak ada kaitannya dengan dugaan korupsi Mister LHO? Terlebih karena belakangan terbukti, Mister LHO tidak terlibat korupsi. Jadi sungguh aneh, kenapa kok masalah skandal sex itu dihubung-hubungkan dengan tema utama cerpen kamu ini, yakni korupsi. Kenapa?”

Saya diam, bingung harus menjawab apa.

“Saya kira,” lanjut A, “Cerpen kamu ini jelek banget. Maaf ya, saya harus berkata blak-blakan. Saya benar-benar tak tahan untuk berkata jujur. Cerpen kamu sangat jelek. Ceritanya ngelantur ke sana ke mari. Sangat tidak fokus. Jumlah tokohnya pun terlalu banyak. Kamu mau bikin cerpen atau gado-gado?”

“Dua-duanya sih, Mas. Hehehe…”

“Dua-duanya?”

“Iya. Soalnya ibu saya di rumah jualan gado-gado juga, sih.”

“O, pantes. Jadi cerpen ini sebenarnya kamu persembahkan untuk ibu kamu?”

“Bukan, Mas. Cerpen ini memang pesanan ibu saya. Dia nyuruh saya menulis cerita seperti itu.”

“OOOO… JADI INI CERPEN PESANAN?”

“Ya, gitu deh.”

Si penulis senior yang berinisial A itu tersenyum geli. Lalu manggut-manggut. Diam sebentar. Mungkin dia sedang berpikir.

Lalu sekitar dua menit kemudian A mengangkat wajahnya dan berkata, “Kamu tahu gak sih? Seandainya cerpen yang kamu tulis ini merupakan kisah nyata, saya yakin orang-orang yang awalnya tak simpati pada parpolnya Mister LHO pun, lama-lama akan jadi heran, curiga, bertanya-tanya. Ada apakah gerangan, kok kasus ini jauh lebih aneh ketimbang cerpen yang paling fiktif sekalipun?”

Saya diam, tertegun, tak tahu lagi harus berbuat apa. Saya kini yakin seyakin-yakinnya, bahwa saya belum bisa membuat cerpen yang baik.

“Maafkan Bedjo, Mama.” (*)

Kampung Makasar, 21 Mei 2013

Tertanda,
Jonru
Founder & CEO Dapur Buku
Cara Baru Menerbitkan Buku

One response to “Cerpen: Skandal Sex Mister LHO

  1. Cerpen yg tidak fokus/ngelantur/ga nyambung antara 1 cerita sama cerita yg lain.
    Eeeehhh… Ternyata pesanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s