Kelola Dana Haji dalam Dinar

Menteri Agama RI memegang tanggung ja-wab dan amanah be-sar dari jutaan jamaah calon haji. Pasalnya, jamaah calon haji di-wajibkan setor uang muka beberapa ta-hun sebelum berangkat. Dengan jum-lah 210 ribu orang/tahun, dengan setoran Rp 25 juta/orang, total dana awal ini mencapai Rp 5,25 triliun/tahun. Sementara, waktu tunggu telah mencapai tiga-lima tahun. Maka, selama itu pulalah dana Rp 5,25 triliun ini menganggur.

Maka, dana tersebut dirasa perlu dikelola untuk ‘diproduktifkan’ dan menghasilkan tambahan. Pembenarnya hasil investasi tersebut diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat.

Bentuk investasi

Saat ini, menteri Agama mengam-bil jalan paling ‘aman’ dalam mengin-vestasikan dana tersebut. Uang tersebut ‘dititipkan’ ke menteri Keuangan da­lam bentuk sukuk berjangka. Dari su-kuk triliunan rupiah uang jamaah tersebut, didapat imbalan enam persen/ tahun. Masalahnya, selama mengendap bertahun-tahun, nilai uang tersebut terus merosot terdepresiasi.

Di sini ada dua kemungkinan. Per-tama, hasil perolehan dari sukuk yang dibeli dari uang jamaah tersebut hanya sebagian kecil yang dikembalikan ke-pada yang berhak, bentuknya pun ‘la-yanan’ yang tidak terukur. Kedua, nilai perolehan tersebut tidak mengimbangi besar depresiasi mata uang mengendap yang semakin lama semakin besar me-rosotnya. Alhasil, biaya naik haji makin mahal, sementara layanan tidak membaik.

Masalah lain muncul karena kita dipaksa membelanjakan sebagian besar dana dalam bentuk dolar AS dan riyal Saudi-yang keduanya sebenarnya sama, riyal Saudi diikat secara tetap terhadap dolar AS. Hal ini berisiko besar sewaktu-waktu nilai kurs dolar AS berubah de­ngan kecenderungan rupiahlah yang selalu merosot terhadap dolar AS.

Tentang investasi sukuk itu sendiri juga mengandung masalah mendasar. Pertama, instrumen finansial ini tidak bebas dari riba meski disebut sebagai sukuk atau obligasi syariat. Semua te­tap mengacu dan menginduk pada in-dustri finansial berbasis riba lainnya. Kedua, terutama belakangan ini, industri keuangan jatuh-bangun.

Karena itu, harus dicari cara yang benar-benar aman dan membawa berkah. Ukurannya ada tiga, bebas depresiasi, bebas riba, dan memberi keuntungan terbaik. Instrumen yang memenuhi ini adalah wujudkan dan kelola dana haji dalam dinar emas dan dirham perak.

Usulan ini didasari oleh penelitian dan perhitungan yang sangat meyakinkan secara empiris. Dari data selama 10 tahun (2000-2010), terbukti bahwa biaya ibadah haji dalam dolar AS rata-rata naik 3,5 persen, dalam rupiah naik 5 persen, tetapi dalam dinar emas turun (-) 8 persen/tahun. Artinya, kalau rupiah dan dolar AS terus terdepresiasi, dinar emas justru terapresiasi.

Dalam rupiah, keuntungan atas apresiasi dinar emas untuk biaya ibadah haji ini totalnya 13 persen/tahun, dalam dolar AS 11,5 persen/tahun. Angka ini lebih dari dua kali lipat perolehan sukuk yang hanya enam persen dengan hampir tidak ada risiko dan sama sekali bebas dari riba. Dari data empiris ini, juga terbukti dinar emas jauh lebih baik dan aman ketimbang dolar AS.

Data empiris inipun telah divalidasi dengan hitungan proyeksi sampai 2020. Di sini, kita ambil empat titik waktu saja, yakni 2011 dan 2012 yang sudah kita lewati, serta 2015 dan 2020. Sesuai dengan proyeksi biaya ibadah haji (BPIH) dalam rupiah pada 2011 dan 2012, terus naik dibanding 2010. Dalam dinar, juga sesuai proyeksi, terbukti turun, bahkan lebih besar dari proyeksi semula. Pada 2012 ini, BPIH cukup dibayar dengan 16 dinar, padahal proyeksi semula 19 dinar (pada 2010 masih 23 dinar, 2011 seharga 21 dinar). Kurs dinar saat ini sekitar Rp 2.340.000/dinar.

Untuk masa depan, kita ambil saja dua titik, yaitu 2015, BPIH akan men­capai sekitar Rp 44,4 juta dan 2020 akan menjadi Rp 56,7 juta. Dalam dolar AS, kita peroleh BPIH sebesar 4.218 dolar (2015) dan menjadi 4.890 dolar (2020). Dalam dinar, sebaliknya, kita peroleh BPIH yang terus-menerus makin murah secara signifikan, yakni 15,1 dinar (2015), dan turun lagi jadi hanya 9,9 dinar (2020). Ini kalau keadaannya stabil.

Butuh keteguhan

Secara matematis, baik dari perkiraan di atas kertas maupun hitungan empiris, pengelolaan dana haji dalam dinar emas adalah pilihan terbaik. Cara ini aman dari risiko finansial, terbebas dari riba, dan memberi manfaat dan keuntungan jauh lebih besar. Penggunaan dinar emas dan pasangannya dirham perak untuk keperluan dana haji juga akan mengeskalasi penerapan dinar emas dan dirham perak yang telah berlangsung selama ini secara signifikan untuk memperkokoh perekonomian bangsa ini.

Secara teknis, penerapan dinar dan dirham sudah berlangsung dengan sangat baik di masyarakat meski masih dalam skala kecil. Tentu, ada beberapa hal teknis lain yang perlu disiapkan seperti soal volume pencetakan dan distribusinya, mekanisme penyimpanannya, mekanisme pembayaran, dan sebagainya. Sekarang, ada tidaknya keputusan ini ada di tangan Pak Suryadharma Ali.

Penulis : Zaim Saidi

Sumber : Republika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s