KEDUDUKAN MANUSIA DALAM SISTEM PENDIDIKAN ISLAM (Telaah Kritis Terhadap Grand-Theory Pendidikan)

A.Pendahuluan

Berbicara tentang pendidikan itu hampir dipastikan berbicara tentang manusia. Oleh karenanya, pertanyaan tentang “apa dan siapakah manusia itu?” hampir selalu mengedepan ketika kita mengkaji persoalan pendidikan, dan anehnya, hingga sekarang ini, jawaban terhadap pertanyaan tersebut, belum mendapat jawaban yang final. Dengan demikian, maka sebenarnya eksistensi manusia di jagad raya atau di planit bumi ini adalah meruapakan eksistensi yang rahasia, unik dan penuh misteri. Ada satu ilustrasi yang cukup mengakar dan terkenal yang menyatakan bahwa “keledai tidak mau tersandung dua kali kepada batu yang sama, tetapi sebaliknya manusia tidak demikian halnya”1. Namun demikian tidak berarti bahwa manusia itu lebih bodoh dibanding dengan keledai, karena, hewan itu hidup hanya tergantung kepada instink atau naluri menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik yang mengitarinya. Hewan itu tidak mampu men-setting lingkungannya, tidak punya kemampuan untuk memahami wawasan kesejarahan, karena hewan tidak mampu belajar dari pengalaman hewan-hewan sebelumnya.

Sebaliknya, manusia itu hidup dengan tidak mengandalkan isntink atau nalurinya saja. Manusia itu hidup dengan akal, perasaan dan kemauan. Dengan tiga modal ini, maka manusia, dalam kehidupannya bisa men-setting kehidupannya. Artinya, manusia itu mampu memanage dan mengadakan perubahan terhadap dan bahkan mampu menciptakan kehidupan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai obsesi dan harapan-harapannya. Apabila manusia itu mau berulangkali tersandung pada batu dan lubang yang sama, maka sebenarnya ia ingin tahu dan sekaligus meneliti mengapa sampai tersandung. Dan setelah itu, dari hasil penelitiannya, akan dapat diketahui tentang sebab-sebab ia tersandung. Dengan melakukan begitu maka manusia akan dapat berupaya memperbaiki dan men-setting kehidupannya yang lebih baik. Atas dasar ini, maka, kehidupan manusia itu bertumpu pada tiga dimensi waktu yaitu waktu lampau, kini dan waktu akan datang, sehingga, manusia itu mendapat stigma sebagai makhluk historis.

Ada tiga teori besar (grand-theory) yang suadah cukup populer dan representatif menyuarakan ajaran-ajarannya tentang posisi manusia dalam kegiatan pendidikan, khususnya menyangkut elemen anak didik dan elemen guru/pendidikan/lingkungan yaitu Empirisme dengan teori tabularasa-nya, Nativisme dengan teori bakat-nya dan teori konvergensi2. Oleh karena itu, makalah ini akan berusaha mengungkapkan pandangan menurut sistem pendidikan Islam maupun menurut tiga grand-theory.

B.Keunikan Manusia

Salah satu sifat kodrati (fitrah) manusia adalah selalu ingin menciptakan dunia dan tata kehidupan serta ingin mengatasi segala rintangan dan hambatan yang ada dihadapannya. Dengan kata lain, manusia, di samping sebagai makhluk sejarah, juga seabagai makhluk yang dikuasai oleh sejarah. Oleh karena itu, ia tidak hanya berada dalam dunianya sendiri, akan tetapi selalu berkomunikasi dan berdialog dengan seluruh kehidupan. Selain fitrah di atas, manusia juga memiliki fitrah ketuhanan yang dibuat antara ruh manusia dengan Pencipta-nya Yang Maha Agung dalam bentuk dialog, yang akan ditanyakan kembali setelah manusia melewati hidup dunia, yaitu fitrah komitmen Tauhid, seperti terekam secara eksplisit dalam Qs. al-A’raf: 1723.

Menurut Imam al-Ghazali, salah satu sifat kodrati dari manusia adalah bahwa ia tidak pernah berhenti bertanya dalam hal mencari kebenaran4. Manusia itu ingin selalu bertanya-tanya tentang rahasia alam semesta. Manusia akan sadar dengan sifat fitrahnya yang cenderung hanif (suka dan cenderung kepada kebenaran). Oleh karenanya, manusia adalah makhluk yang tidak mau berhenti mencari kebenaran.

Hanya saja, dalam proses mencari kebenaran itu, manusia selalu berhadapan dengan hijab atau tabir rahasia Tuhan yang tidak bisa diungkap semuanya. Menurut konsep Islam, manusia itu terdiri dari tiga elemen yaitu : tubuh, hayat, dan jiwa5. Tubuh manusia yang fisik itu bersifat materi, tidak kekal dan dapat hancur. Hayat punya arti “hidup”, dan apabila tubuh manusia itu mati, maka kehidupan pun akan berakhir. Sedangkan jiwa bersifat kekal.

Menurut para filosof Islam, eksistensi jiwa manusia itu tidak terikat dengan/pada materi, karena ia tidak ikut mati bersama-sama denganb matinya tubuh. Dalam perspektif Islam, istilah “mati” itu berbeda dengan dengan konsep mati dari faham materialisme atau ideologi lain. Mati dalam pandangan Islam berarti tubuh manusia manusia akan hancur, tetapi jiwanya tetap memiliki wujud yang abadi.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah faktor apa yang dapat mempengaruhi proses “menjadinya” manusia dan kepribadiannya (personality) itu. Apakah eksistensi manusia dengan segala keunikannya itu lebih disebabkan oleh pembawaan sejak lahir (fitrah)6 atau lebih disebabkan oleh adanya faktor lingkungan dan pendidikannya?. Makalah ini akan mencoba mencari jawaban atas kedua pertanyaan tersebut dengan menggunakan perspektif Islam.

C. Pendidikan Islam Holistik

Berpijak dari konsep bahwa manusia itu bersifat integral-holistik di atas, maka sistem, pendidikan Islam itu tetap berotientasi untuk terwujudnya kebahagiaan di dua kampung, yaitu dunia dan akhirat (sa’adah al-ddarain), meski dalam dataran praksisnya, masih banyak lembaga pendidikan Islam itu yang masih berorientasi keakhiratan saja (escatological oriented). Dengan ungkapan lain, banyak di antara lembaga pendidikan Islam itu masih senang dan puas dengan elemen ukhrawi dari pada elemen duniawi. Hal ini biusa terjadi karena, menurut mereka, kehidupan ukhrawi itu dianggap lebih penting dan dipandang sebagai kehidupan yang sesungguhnya dan sekaligus terakhir. Sementara, kehidupan dunia itu dianggap sementara (terminal) bukan kehidupan yang terakhir (final).

Berpijak pada uraian di atas, maka menjadi jelas bahwa sistem pendidikan Islam itu berbeda secara diametral dengan konsep tabularasa dari John Locke (1632-1704), yang memandang jiwa manusia itu dilahirkan dalam kondisi yang benar-benar bersih bagai kertas putih bersih yang kemudian corak kepribadian anak ke depan itu ditentukan oleh pendidikan dan masyarakatnya. Dengan kata lain, menurut teori tabularasa, pendidik atau guru itu bisa melakukan dan mencetak model apa saja terhadap anak. Jadi guru atau pendidik itu mempunyai kedudukan yang amat sentral dan dapat menentukan 100 % terhadap gambaran masa depan anak7.

Sebaliknya, dalam konsep dan sistem pendidikan Islam, manusia itu dipahami sebagai zat yang theomorfis. Ia berorientasi untuk menjadi pribadi yang bergerak di antara dua titik ekstrem: “Allah-Syetan”8. Tuhan Allah telah menciptakan potensi atau daya-daya pada diri manusia, dan perkembangan selanjutnya terserah pada manusia sendiri. Hal demikian pernah dikatakan oleh al-Jubbai9 bahwa manusilah yang berbuat baik dan buruk, patuh atau tidak patuh kepada Allah adalah merupakan kehendeak dan kemauannya sendiri. Dengan kata lain, manusia itu mempunyai kebebasan berbuat dan berkehendak (free act/free will). Dan daya atau potensi itu telah ada dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan (action). Manusia mempunyai kehendak bebas. Oleh karena itu, manusia berpeluang untuk menjadi orang jahat bagaikan syetan, dan menjadi orang saleh yang amat dekat dengan Tuhan10.

Dengan demikian, perbedaan substansial antara sistem pendidikan Islam dengan teori tabularasa John Locke atau aliran Empirisme dalam ilmu pendidikan umum, adalah bahwa menurut Islam- putihnya anak itu bukan berarti kosong, tidak membawa potensi apa-apa- tetapu justru berisi dengan daya-daya perbuatan. Maka, peran guru atau pendidik dalam sistem pendidikan itu lebih terbatas pada aktualisasi daya-daya fitrah ini, tidak sebebas sistem pendidikan empirisme yang tidak dibatasi oleh nilai-nilai tertentu.

Sementara itu, perbedaan substansial antara sistem pendidikan Islam dengan madzhab nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1768-1860), yang terkenal dengan teori bakat. Menurut teori ini, anak lahir itu telah membawa pembawaan dasar yang cepat atau lambat pasti akan terbentuk. Oleh karena itu, posisi guru sebagai pendidik, hanya berperan sebagai elemen fasilitator dalam sebuah sistem pendidikan., Guru cukup duduk sebagai pembantu bagi pemunculan bakat atau bawaan yang sudah ada dan melekat pada anak sejak lahir11. Sebaliknya, dalam sistem pendidikan Islam, posisi elemen guru, selain duduk berfungsi sebagai fasilitator, ia juga ikut bertanggung jawab terhadap pembentukan kepribadian (personality) anak didik. Guru dalam sistem pendidikan Islam itu harus bertanggung jawab kepada Allah Swt atas kerja pendidikan yang dilakukan. Namun demikian. Jika di kemudian hari anak itu menetapkan sendiri tentang agama yang akan dianut, maka hal itu merupakan urusan diri pribadinya dengan Allah Swt, bukasn lagi urusan guru atau pendididik yang mengajarnya.

Sedangkan perbedaan mendasar antara sistem pendidikan Islam dengan teori konvergensi, yang mengawinkan faktor endogen (bakat yang dibawa sejak lahir, nativisme) dan faktor eksogen (pengaruh-pengaruh luar, empirisme) sebagai dua faktor yang berjalan bersamaan dalam pembentukan masa depan anak didik, adalah sistem pendidikan Islam yang menekankan pada pembentukan kepribadian yang berujung pada fitrah dasar manusia untuk ma’rifatullah dan bertaqwa kepada-Nya.

Melengkapi pendapat pentingnya faktor pembawaan dan lingkungan dalam membentuk dan mengembangkan kepribadian anak, maka Islam juga mengenal adanya sistem pendidikan prenatal, di mana seorang ibu selama sedang hamil hendaknya memakan makanan yang halal. Bersikap dan bertingkah laku yang sopan, sabar, penuh kasih sayang, gembira dan ramah serta mudah bergaul. Ini dikandung maksud agar anak yang akan lahir itu berkepribadian dan bertingkah laku terpuji. Dalam keluarga Islam, pada umumnya kedua orangtua calon bayi dianjurkan untuk sering –sering membaca surat Yusuf yang terkenal dengan keistimewaan nabi Yusuf, baik fisik maupun mentalnya: cerdas, sabar, jujur dan memiliki bakat kepemimpinan yang tinggi. Hal yang demkian, satu sisi, bahwa membasca surat Yusuf itu merupskan do’a dan sugesti melalui sugesti diri (self-suggestion), agar sifat-sifat ini bisa masuk ke dalam jiwa ibu dan bapak. Di sisi lain, hal itu merupakan pengakuan adanya faktor internal/endogen yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi positif dan negatif, dan faktor eksternal/eksogen yang akan membentuk dan mengembangkan kepribadian anak.
C.Kesimpulan

Setelah mengkaji dan membandingkan tentang kedudukan manusia dalam sistem pendidikan Islam dan menurut teori-teoRi Barat, maka ada beberapa kesimpulan yang pantas dan layak untuk diajukan, antara lain :

1.Prinsip dari sistem pendidikan Islam adalah adanya keharusan untuk menggunakan metode pendekatan yang menyeluruh terhadap manusia: meliputi dimensi atau elemen jasmani-ruhani dan semua aspek kehidupan, baik yang dapat dijangkau dengan akal (rational, logical) maupun yang hanya dapat diimani dengan kalbu, bukan hanya lahiriyah (esoteric) tetapi juga batiniah (exsoteric).

2.Kiat sistem pendidikan Islam pendidikan Islam dalam memperlakukan anak didik itu melalui tiga tahap (stage) yaitu :

a.Anak didik diperlakukan sebagai “anak”, di mana orang tua sepenuhnya bertanggung jawab untuk meletakkan dasar-dasar keimanan dan ketakwaan yang kokoh sampai anak mencapai dewasa (baligh),

b.Anak didik diperlakukan sebagai “teman”, di mana orang tua/ pendidik memandang bahwa anak didik itu memiliki hak privacy-nya untuk menentukan model kepribadian tersendiri. Dalam konteks ini, anak didik tidak 100 % lagi tergantung kepada orang tua/pendidik, “dunia orang tua” sebagian sudah mulai tergantung kepada anak.

c.Anak didik dipandang sebagai “pengganti” orang tua atau generasi tua. Pada titik ini, anak 100% tergantung kepada dirinya sendiri dan telah mampu untuk bekerja sama dengan orang lain dalm sistem kehidupan bersama. Namun dalam Islam ke mana kepribadian itu harus dibentuk dan dikembangkan telah jelas, yaitu menuju ma’rifatullah dan mengorientasikan anak didik pada dua elemen kehidupan yaitu elemen duniawi dan elemen ukhrawi. Wallahu a’lam bi al-shawab.

1 Tentang ilustrasi ini, lebih jauh dan dalam dapat dilihat pada Fuad Hasan, “Respondeo Ergo-Sum, Persepsi, Filsafat tentang Manusia”, dalam Islam dan Pendidikan Nasional (Jakarta: Lembaga Penelitian IAIN Jakarta, 1983), hlm. 30-43

2 Kajian tentang tiga aliran pendidikan (grand-theory) dalam pendidikan, lihat Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu dan Pemikiran, 1999, hlm.3-4.

3 Kajian mendalam dan komprehensif tentang pendidikan Islam berbasis tauhid, lihat Mohammad Sholeh Yohan Arifin Ichrom, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an: Sumbangan Penafsiran untuk Umat Islam (Buku Pidato Pengukuhan Guru Besar), Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2002..

4 Mengenai pandangan al-Ghazali tentang manusia, antara lain, lihat al-Ghazali, Minhaj al-‘Abidin (Jakarta: Darul Ulum Press, 1986); Bimbingan Mukmin dalam Mencari Ridha Rabbil Alamin (Singapura: Pustaka Nasional, 1976); dan O Anak (Jakarta: Tintamas, 1983).

5 Lihat Harun Nasution, “Manusia Menurut Konsep Islam”, dalam Islam dan Pendidikan Nasional, Op. Cit., hlm. 59-79

6 Kajian menarik dan mendalam tentang Agama dan Fitrah manusia, lihat Aflatun Muchtar, Tunduk Kepada Allah Fungsi dan Peran Agama Dalam Kehidupan Manusia, Jakarta: Khazanah Baru, 2001, hlm. 89-114

7 Mastuhu, Op.Cit, hlm. 25

8 Ali Syari’ati, Tentang Sosiologi Islam (Yogyakarta: Ananda, 1982), Terj. Saifullah Mahyuddin, hlm. 125

9 Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan (Jakarta: UI Pres, 1983), hlm. 102

10 Lihat dan baca Qs. al-An’am: 164.

Diambil dari : http://karanggedang.wordpress.com/wahid-nurhamid/

Sumber lain untuk pengayaan : http://faizperjuangan.wordpress.com/2008/02/12/paradigma-pendidikan-john-locke-dan-robert-owen-sebuah-tugas-kuliah/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s