Mari menjadi muslim proaktif….

Ketika komandan Perang Mu’tah gugur satu persatu, sepertinya kekalahan semakin dekat mnghampiri kaum muslimin. Zaid bin Haritsah tersungkur di atas medan pertempuran, syahid tertancap tombak yang dihujamkan pasukan musuh. Ja’far bin Abu Thalib yang mengambil alih bendera pasukan muslimin, juga gugur setelah sebelumnya kedua tangannya terputus ditebas pedang musuh. Benderapun diambil alih Abdullah bin Rawahah, yang juga menemui syahidnya seperti dua komandan sebelumnya. Benderapun jatuh, tak bertuan, tiada yang mengibarkan.

Perang Mu’tah merupakan salah satu perang terbesar di zaman Rasulullah. Beliau mengirim tidak kurang tiga ribu pasukan dengan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Jika Zaid gugur, Ja’far bin Abu Thalib yang menggantikan. Jika Ja’far gugur, pimpinan pasukan diserahkan pada Abdullah bin Rawahah. Itulah pesan Rasulullah sebelum keberangkatan pasukan muslimin menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di dunia saat itu, Romawi.

 

Kebesaran pasukan Romawi selama ini hanya terdengar oleh telinga kaum muslimin. Ketika mereka mengetahui ada dua ratus ribu prajurit yang akan dihadapi, kebimbangan meliputi hati mereka. Bagaimana        mungkin tiga ribu prajurit menghadapi dua ratus ribu prajurit musuh? Merekapun sepakat untuk mengirim surat pada Rasulullah dengan maksud mengabarkan jumlah pasukan musuh dan berharap datangnya bala bantuan atau menunggu instruksi berikutnya. Namun sebelum surat kebimbangan itu dikirim, Abdullah bin Rawahah berdiri dan bersuara lantang ditengah pasukan kaum muslimin yang tengah diliputi keraguan, “Wahai semua orang, Demi Allah, apa yang kalian sukai dalam kepergian ini justru merupakan sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya personil. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena agama ini, yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, karena disana hanya ada salah satu dari dua kebaikan, entah kemenangan atau kesyahidan..” Letupan kata-kata Abdullah bin Rawahah membuat semangat pasukan muslimin kembali terpancar, menatap pasukan musuh dengan penuh keberanian.

Kembali ke kancah perang, tidak sedikit pasukan muslimin yang mengira bahwa bendera yang tak bertuan itu akan jatuh ke tangan musuh. Dalam tradisi perang saat itu, jatuhnya bendera pasukan muslimin ketangan musuh adalah pertanda kekalahan. Disaat yang sangat genting itulah muncul seorang dari pasukan muslimin berinisiatif mengambil bendera untuk diserahkan kepada komandan perang. Masalahnya, ketiga komandan perang yang ditunjuk Rasulullah telah menemui syahid. Dalam kecamuk perang yang sebegitu dahsyat, tidak mungkin untuk berembuk dengan anggota pasukan yang lain guna mengangkat seorang diantara mereka sebagai komandan pasukan muslimin. Akhirnya lelaki yang bernama Tsabit bin Arqam itu berpikir cepat dan taktis untuk menyerahkan bendera itu kepada Pedang Allah, Khalid bin Walid. Dari Madinah, dengan perantaraan wahyu, Rasulullah menceritakan situasi perang di Mu’tah kepada para sahabat disana, “Zaid memegang bendera lalu dia gugur. Kemudian Ja’far mengambilnya dan diapun gugur. Kemudian Abdullah bin Rawahah mengambilnya dan diapun gugur. Hingga salah satu dari pedang-pedang Allah mengambil bendera itu dan akhirnya Allah memberi kemenangan pada mereka..

Dengan kepiawaiannya, Khalid menerapkan taktik perang dengan merubah komposisisi pasukan. Mereka yang berada di front depan, ditukar dengan front belakang. Posisi sayap kanan dialihkan ke sayap kiri, begitu pula sebaliknya. Pola ini telah menyebabkan pasukan Romawi berpikir bahwa bala bantuan pasukan muslimin telah datang karena mereka menghadapi pasukan yang berbeda. Walhasil, pasukan muslimin kembali ke Madinah dengan kepala tegak..

Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah Perang Mu’tah adalah tampilnya jiwa-jiwa yang proaktif. Para pahlawan Perang Mu’tah itu telah mengajarkan kepada kita sikap proaktif  yang sesungguhnya. Bukan sekedar menghindarkan diri dari sikap lemah semangat (pasif), bukan pula proaktif yang asal asalan.

Abdullah bin Rawahah mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang berasal dari keyakinan yang kuat. Dia  memang tidak ikut menikmati udara kemenangan bersama pasukan yang lain. Namun inisiatifnya untuk mengangkat spirit pasukan ketika kebimbangan dan rasa takut meliputi mereka, telah menghalangi langkah mundur pasukan sebelum memasuki medan perang.

Tsabit bin Arqam mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang mengacu pada kecepatan dan ketepatan. Gerak cepatnya mengambil bendera yang nyaris jatuh ke tangan musuh, dan ketepatannya menyerahkan bendera itu kepada seorang Khalid, telah mampu menghindari pasukan muslimin dari kekalahan.

Khalid bin Walid telah mengajarkan kepada kita sikap proaktif dengan memunculkan ide yang cemerlang, untuk kemudian direalisasikan dengan penuh perhitungan. Dalam kondisi yang sangat sulit dan terdesak, taktiknya telah membuat ciut pasukan Romawi. Sikap-sikap mereka yang proaktif itu mampu mengangkat harga diri kaum muslimin di mata bangsa Arab, bahkan dunia. Keberhasilan menghadapi pasukan adikuasa Romawi, menempatkan kaum muslimin sebagai kekuatan yang sangat diperhitungkan di seantero bumi.

Mari menjadi muslim proaktif….

Maraji’: Ar Rahiqul Makhtum, Mubarakfury

sumber : AlHikmah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s