Beberapa sebab akhir khidupan su’ul khotimah …. (1/2)

Sebagian orang yang mengaku beragama Islam mendapatkan su’ul khatimah. Naudzu billah!

Su’ul khatimah ini nampak pada sebagian orang yang sedang sekarat. Shiddiq Hasan Khan menceritakan tentang su’ul khatimah, “Su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin. Kemudian beliau menyebut sebab-sebab dimaksud sebagai berikut:

1. Kerusakan dalam akidah,

Walaupun disertai zuhud dan kesholehan yang sempurna. Kalau ia memiliki kerusakan dalam aqidahnya dan ia meyakininya serta tidak menyangka bahwa
ia salah, terkadang kekeliruan akidahnya itu tersingkap pada saat sakaratul maut. Setelah tersingkap, maka kerusakan sebagian akidahnya menyebabkan terhapusnya akidah lainnya.

Dengan demikian, bila ia wafat dalam keadaan seperti ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, berarti ia mcndapatkan su’ul khatimah
dan wafat dalam keadaan tanpa iman. Selain itu, ia termasuk orang yang disebut oleh Allah dalam ayat,

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan” dan ayat, “Katakanlah, Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka me-nyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

Jadi, setiap orang yang berakidah secara keliru baik karena pendapatnya sendiri atau mengambil dari orang lain, maka ia berada dalam bahaya besar, dan zuhud serta kesalehannya akan sia-sia alias tidak berguna. Yang berguna adalah akidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan sunah Rasul, karena akidah agama tidak dianggap benar kecuali bersumber dan keduanya.

2. Banyak melakukan maksiat.

Orang yang sering melakukan maksiat, maka maksiat itu akan menumpuk di dalam hatinya, dan semua yang dikumpulkan manusia sepanjang umurnya, maka memori itu akan terulang saat ia mati. Jika seseorang cenderung pada ketaatan dan hal-hal baik, maka yang paling banyak hadir pada saat ia sekarat adalah memori ketaatan. Sebaliknya, kalau kecenderungannya pada maksiat lebih be¬sar, maka yang paling banyak hadir saat ia sekarat adalah memori maksiat. Bahkan bisa jadi pada saat maut menjelang dan ia belum tobat, syahwat dan maksiat menguasainya sehingga hatinya terikat padanya dan akhirnya hal itu menjadi penghalang antara dia dan Tuhannya serta menjadi penyebab kesengasaraannya di akhir hayat.

Nabi saw. bersabda, “Maksiat adalah kekufuran.” Adapun orang yang tidak melakukan dosa atau ia berdosa tapi kemudian bertobat maka ia jauh dari bahaya ini. Sementara orang yang banyak dosanya sampai melebihi ketaatannya dan tidak bertobat bahkan ia terus menerus melakukannya, maka ini sangat berbahaya baginya, sebab dominasi maksiat ini akan terpatri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menjadi penyebab su’ul khatimah (akhir yang buruk).

Perbandingannya sebagai berikut. Tak diragukan bahwa manusia dalam mimpinya melihat hal-hal yang berhubungan dengan dirinya sepanjang umurnya. Orang yang menghabiskan umurnya dalam keilmuan akan bermimpi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu dan ulama. Orang yang menghabiskan umurnya dalam dunia menjahit akan bermimpi tentang hal-hal yang berkaitan dengan jahitan dan penjahit. Sebab yang ada dalam tidur adalah apa yang berhubungan dan berkaitan dengan hatinya sepanjang hidupnya. Mati walaupun lebih dari tidur, namun sakaratul maut dan keadaan tidak sadarnya mirip dengan tidur. Lama bergelimang maksiai akan membuat hati cenderung kepada dan mengingat maksiat, dan jika rohnya terlepas dari jasadnya saat itu, maka buruklah akhirnya.

Adz-Dzahabi, dalam al-Kaba’ir, mengutip Mujahid:

Tidaklah seorang mati kecuali ditampilkan kepadanya or-ang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya, “Ucapkanlah la ilaha ilia Allah.” Ia menjawab, “Skak!” kemudian ia mati.Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat tauhid, ia mengatakan skak. Ini seperti orang yang kawan-kawannya adalah para pemabuk. Saat sekarat, seseorang datang untuk mengajarkannya meng-ucap syahadat, tetapi ia malah berkata, “Mari minum dan tuangkan untukku!” Kemudian ia mati. La hawla wa la quw-wata ilia, billah.

Bersambung … Insya Allah ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s