Kiat Sukses Berinteraksi dengan Al-Qur’an (2) : Al-Qur’an di Mata Para Sahabat Nabi SAW

Ketika dakwah yang diemban oleh Rasulullah saw berhasil ditancapkan di semenanjung arab, terutama di dua kota al-haram (kota Mekkah dan Madinah) dalam kurun waktu yang singkat, dengan dinaungi Al-Quran, akhirnya mampu melahirkan satu generasi manusia, generasi –yang menurut bahasa Sayyid Qutb- yang unik; generasi sahabat Rasulullah SAW, Ridhwanullahi alaihim, yaitu suatu generasi yang paling istimewa di dalam sejarah Islam dan di dalam sejarah kemanusiaan seluruhnya.

Sebuah Generasi yang tidak akan pernah muncul kembali sesudahnya, sekalipun ada namun segolongan besar manusia, di satu waktu dan satu tempat yang tertentu seperti yang telah muncul di era awal dakwah.

Generasi yang lahir dengan fakta dan realita nyata bukan sekedar dongengan dan khayalan, mereka hidup dalam satu lingkungan dan komunitas yang benar-benar nyata bukan sekedar cerita dan bualan belaka. Kisah mereka sangatlah terang seterang sinar matahari di siang hari. Generasi yang kelak menjadi contoh dan tauladan sepanjang masa, sehingga dengan itu semua kita perlu memperhatikan dan merenungkannya dan menyelami rahasia dibalik keberhasilan mereka menjadi generasi yang unik.

Sebenarnya sumber pokok yang membuat generasi pertama menjadi generasi unik adalah Al-Quran, hanya Al-Quran yang menjadi sumber panduan, perjalanan hidup dan prilaku mereka. walaupun bukan berarti pada saat itu umat manusia di zaman itu tidak memiliki kebudayaan, tidak memiliki peradaban dan tidak punya buku karangan!

Karena kebudayaan Romawi sebagai Negara adi daya saat itu, buku-buku dan undang-undangnya dijadikan kiblat dan panduan hidup oleh orang-orang Eropa. Peradaban Yunani (Greek), falsafah dan kebudayaannya, yang juga masih menjadi sumber pemikiran Barat hingga sekarang, bahkan juga ada peradaban Persia yang kebudayaannya, keseniannya, sajaknya, syair dan dongengnya, serta kepercayaan dan sistem perundangannya menjadi acuan, serta peradaban dan kebudayaan lainnya, seperti India, China dan lain-lainnya.

Romawi dan Persia berada di sekeliling semenanjung Arab, baik di utara maupun di selatan, ditambah lagi oleh agama Yahudi dan Nasrani yang telah lama berada di tengah-tengah semenanjung arab.

Adanya Kitabullah (Al-Quran) merupakan “planning” yang telah ditentukan dan diprogram oleh Allah untuk mengubah peradaban yang telah gagal menuntun manusia pada hidayah Allah. Dan diutusnya Rasulullah saw sebagai nabi akhir zaman guna menjelaskan maksud diturunkannya Al-Quran kepada mereka; membentuk satu generasi yang bersih hatinya, bersih pemikirannya, bersih pandangan hidupnya, bersih perasaannya, dan mumi jalan hidupnya dari segala unsur yang yang bertolak belakang dengan Al-Quranul Karim.

Dan subhanallah dalam waktu 23 tahun generasi sahabat-sahabat berhasil mengubah cara pandang, gaya hidup dan prilaku ketingkat yang lebih tinggi dan mulia, mereka dengan senang hati menerima Al-Quran, menghafal dan mengamalkannya dalam segala gerak-gerik dan prilaku mereka sehari-hari, menjadi sumber yang tunggal dan panduan semata. Oleh kerana itulah generasi itu telah berhasil membentuk sejarah gemilang di zamannya.

Para sahabat Rasulullah di dalam generasi pertama itu tidak mendekatkan diri mereka dengan Al-Quran dengan tujuan mencari pelajaran dan bacaan belaka, bukan juga dengan tujuan mencari hiburan dan pelipur lara. Tiada seorang pun dari mereka yang belajar Al-Quran dengan tujuan menambah bekal dan bahan ilmu semata-mata untuk ilmu dan bukan juga dengan maksud menambah bahan ilmu dan akademi untuk mengisi dada mereka saja. Namun mereka mempelajari Al-Quran itu dengan maksud hendak belajar bagaimanakah arahan dan perintah Allah dalam urusan hidup peribadinya dan hidup bermasyarakat. Mereka belajar untuk dilaksanakan “sami’na wa ‘ata’na, seperti seorang perajurit yang siap menerima “ruh al-istijabah” dan membuka dada untuk selalu mengambil arahan yang turun.

Ruhul istijabah yang hanya mau menerima sepuluh ayat saja dan tidak mau menambahnya sehingga benar-benar dapat dihafal dan dilaksanakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a. Perasaan inilah perasaan belajar untuk melaksanakan, yang telah menambah luasnya lapangan hidup mereka, menambah luasnya ma’rifat dan pengalaman mereka dari ajaran Al-Quran.

Perasaan belajar untuk melaksanakan ini juga yang telah memudahkan mereka bekerja dan meringankan beban mereka yang berat, kerana Al-Quran telah menjadi hati, menjadi daging dan darah mereka. Perasaan yang telah tertanam dalam jiwa mereka hingga meresap menjadi panduan dalam gerak dan melahirkan pelajaran yang memotivasi aktivitas, pelajaran yang bukan sekedar teori yang hanya bersarang di dalam otak kepala manusia atau tertulis di halaman kertas namun menjadi kenyataan yang melahirkan kesan dan peristiwa yang mengubah garisan hidup.

Bagaimanakah pandangan para sahabat nabi terhadap Al-Quran, mari kita simak penuturan mereka:

1. Ali bin Abi Thalib dalam memberikan sifat Al-Quran : “Dia adalah kitabullah, didalamnya terdapat kabar –berita- orang-orang sebelum kalian, dan orang-orang setelah kalian, pemberi hukum diantara kalian, dia adalah pemisah yang tidak pernah main-main, barangsiapa yang meninggalkannya karena angkuh maka Allah akan membinasakannya, dan bagi siapa yang mencari hidayah selainya maka Allah akan menyesatkannya, Al-Quran adalah Tali Allah yang erat, Al-Quran adalah pemberi peringatan yang bijaksana, Al-Quran adalah jalan lurus, Al-Quran adalah kitab yang tidak akan melencengkan hawa nafsu, menyimpangkan lisan, dan memberikan kepuasan para ulama, tidak menciptakan keraguan dan tidak akan habis keajaiban-keajaiban yang terkandung didalamnya… Al-Quran adalah kitab yang tidak pernah bosan didengar oleh bangsa Jin sehingga mereka berkata : “Sungguh kami telah mendengar Al-Quran yang menakjubkan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus maka kami beriman kepadanya”. (Surat Al- jin : 1-2). Barangsiapa yang berkata dengannya akan benar, yang mengamalkannya akan mendapat ganjaran, yang berhukum dengannya akan adil dan yang menyeru kepadanya akan dapat petunjuk kejalan yang lurus…”

2. Abdullah bin Abbas berkata : Allah mengumpulkan dalam Kitab ini ilmu –pengetahuan- para pendahulu dan sekarang, ilmu yang telah terjadi dan akan terjadi, ilmu tentang Sang Pencipta, perintah-Nya dan Ciptaan-Nya…” (Jami Al-Usul : 8 : 464-465)

3. Diriwayatkan oleh Amir bin Wailah bahwa Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di Asfan –saat itu Umar mengangkatnya menjadi Imam di Mekkah- beliau berkata : “Siapa yang menjadi imam pada penduduk dusun ? dia berkata : Ibnu Ibzi … beliau berkata : Siapa Ibnu Ibzi ? dia berkata : salah satu pemimpin dari pemimpin kami ! beliau berkata : anda telah mengangkat atas mereka seorang pemimpin ? dia berkata : dia adalah seorang qori –hafidz- kitabullah, dia adalah alim dalam ilmu Faraidl, Umar berkata : adapun Nabi kalian bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat suatu kaum dengan Kitab ini dan menghinakan kaum lainnya..” ( Jami’ Al-Usul : 8 : 507)

4. Diriwayatkan oleh Abu Al-Aswad Ad-Duuli berkata : Abu Musa Al-Asy’ari diutus kepada para huffadz kota Basrah, maka menemui 300 orang yang telah hafal Al-Quran, maka beliau berkata : kalian adalah umat yang dipilih dari kota Basrah, menghafal Al-Quran karena itu bacalah dengan baik dan janganlah memanjang-manjangkan bacaan sehingga hati kalian menjadi keras seperti umat sebelum kalian..” (Jami Al-Usul : 2 : 452)

5. Aisyah –RA- berkata : “Abu Bakar jika membaca Al-Quran selalu menangis baik dalam sholat atau lainnya. Beliau juaga berkata : “Al-Quran lebih mulia daripada hilangnya akal manusia…”. (Jami Al-Usul : 2 : 466-467)

6. Asma binti Abu Bakar –RA- berkata : “Tidak ada seorangpun dari salafussolih tidak tergerak dan merasakan kenikmatan saat membaca Al-Quran, namun mereka selalu menangis dan bergetar kemudian kulit dan hati mereka lunak dengan menyebut nama Allah”. (Jami Al-Usul : 2 : 467)

7. Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : “Wahai sekalian para huffadzul Quran, beristiqomahlah kalian karena kalian telah melangkah lebih jauh, jika kalian mengambil jalan kanan lalu kekiri maka sesungguhnya kalian telah tersesat dalam kesesatan yang jauh”. (Jami Al-Usul : 2 : 471)

8. Ibnu Abbas berkata : “Para penghafal Al-Quran merupakan para pendamping majlis Umar dan musyawarah, orang tua dan kalangan muda”. (At-Tibyan fi Adab Hamlatil Al-Quran, Imam Nawawi : 11)

9. Berkata Al-Hasan bin Ali : “sesungguhnya umat sebelum kalian memandang Al-Quran sebagai surat dari Tuhan mereka, mereka mendatabburkannya di malam hari dan mencarinya disiang hari –mempelajarinya-.” (At-Tibyan : 28)

10. Sekelompok manusia dari Yaman menghadap Abu Bakar Ash-Shiddiq, mereka membaca Al-Quran sambil menangis, maka Abu Bakar berkata : begitulah kami dahulu. (At-Tibyan : 28).

11. Seseorang berkata kepada Abdullah bin Mas’ud : “Saya membaca Al-Quran –surat al-mufashol- pada rakaat pertama –al-mufashol adalah surat-surat pendek dalam Al-Quran mulai dari surat Al-Hujurat hingga An-Naas, dinamakan demikian karena banyaknya pemisahan antara surat dengan basmalah- maka Ibnu Mas’ud berkata kepadanya : Demikianlah, demikianlah Syair, sesungguhnya sebagian kaum ada yang membaca Al-Quran tidak sampai tenggorokan mereka, seandainya masuk kedalam hati maka akan bersih hatinya dan bermanfaat”. (At-Tibyan : 49)

12. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Seorang hamba tidak akan ditanya akan dirinya kecuali Al-Quran, jika dia mencintainya maka Allah dan Rasul-Nya akan cinta kepadanya, namun jika ia murka kepadanya maka Allah dan Rasul-Nya akan murka juga kepadanya…” (Fadhail Al-Quran, Imam Ibnu Katsir : 6)

13. Abdullah bin Mas’ud berkata tentang sebagian surat yang mulia dan selalu dibacanya dengan melagukannya, yaitu surat : Al-Isro, Al-Kahfi, Maryam, Thoha, Al-Anbiya, sesungguhnya kesemuanya itu merupakan punggung utama dan merupakan taladi”. (Fadhail Al-Quran : 25)

14. Ibnu Abbas berkata : “Sekiranya para penghafal Al-Quran mengambilny adengan benar dan yang layak baginya maka Allah akan cinta kepada mereka, namun sebagian mereka banyak yang mencari dunia sehingga Allah murka kepada mereka dan menghinakannya dihadapan manusia”. (Tafsir Al-Qurtubi : 1 :20)

15. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : “Tidak layak bagi penghafal Al-Quran masuk ke dalam lingkaran orang yang lalai, tidak ikut bodoh bersama orang-orang yang bodoh, namun memiliki sifat pemaaf dan melebarkan tangan melalui kebenaran Al-Quran, karena di dalam mulutnya ada kalam Allah”. (Al-Qurtubi : 1 : 21)

16. Dari Abdullah bin Mas’ud berkata : “Sesungguhnya pada awal kami sangat sulit Al-Quran namun mudah bagi kami mengamalkannya, namun umat setelah kami mudah bagi mereka menghafal Al-Quran namun sulit bagi mereka untuk mengamalknnya”. (Al-Qurtubi : 1 : 40)

17. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Jika kalian menginginkan ilmu maka carilah Al-Quran karena didalamnya terdapat ilmu umat dahulu dan mendatang”. (Ihya Ulumuddin : 1 : 498)

18. Anas bin Malik berkata : “Betapa banyak orang yang membaca Al-Quran namun Al-Quran melaknatnya”. (Al-Ihya : 1 : 499)

19. Abdullah bin Umar bin Al-Khattab berkata : “Kami hidup pada zaman yang panjang dan diantara kami ada yang diberi iman lebih dahulu sebelum Al-Quran, lalu turunlah surat kepada nabi Muhammad saw hingga bisa belajar yang halal dan haram, perintah dan larangan, apa yang seharusnya dilakukan dari sisinya, namun ada sebagain kalian seperti yang saya lihat yang diberi lebih Al-Quran sebelum iman, dia membaca antara surat Al-Fatihah hingga akhir namun tidak memahami mana perintah dan larangan, dan apa yang seharusnya dia lakukan darinya…? (Al-Ihya : 1 : 500)

20. Utsman bin Affan dan Hudzaifah bin Al-Yaman berkata : “Seandainya hati-hati itu bersih maka tidak akan pernah merasa puas dalam membaca Al-Quran”. (Al-Ihya : 1 “ 522)

21. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Al-Quran itu merupakan tempat pendidikan dari Allah barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka ia akan aman.” (AZ-Zuhud, ibnu Al-Mubarak : 272)

22. Abu Hurairah berkata : “Rumah yang dibacakan didalamnya Kitabullah maka akan berlimpahlah kebaikan dan didatangi para Malaikat serta syetan akan keluar darinya..sedangkan rumah yang tidak pernah dibacakan didalmnya Kitabullah maka penghuninya akan merasa sempit, sedikit kebaikannya, syetan akan singgah didalamnya sedangkan para malaikat akan keluar..” (Az-Zuhud, Ibnu Al-Mubarak : 273)

23. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : “Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka derajatnya akan setara dengan kenabian namun dia tidak diberi wahyu, dan barangsiapa yang membaca Al-Quran lalu dia melihat salah seorang dari makhluk Allah yang diberikan lebih baik maka sungguh ia telah menghinakan kebesaran Allah, dan besar dosa dalam menghina Allah, tidak layak begi penghafal Al-Quran tidak mengetahui apa yang tidak diketahui oleh manusia, tidak membatasi dirinya dari mereka yang membatasi dirinya, namun hendaknya mau memaafkan dan melebarkan tangan.” (Az-Zuhud : 275-276)

Sumber : http://www.al-ikhwan.net/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s